Saya

10.000 BC

Kisah kepahlawanan jaman baheula yang dikemas dengan cara yang kurang pas. Namun sebagai sebuah film cukup menghibur lah.

Pada 10.000 BC di sebuah desa yang dihuni oleh suku Yagahl, tersebut lah seorang pria bernama Dleh. Sejak kecil dia sering dicemooh teman2nya karena memiliki ayah seorang pengecut. Hanya Evolet, perempuan cantik bermata biru yang selamat dari pembantaian mammoth, yang membuat Dleh kecil bertahan di tengah cemoohan.

Dleh baru berhasil lepas dari cemoohan saat usianya menginjak remaja, ketika para pemuda desanya bersiap menyambut hijrah rombongan mammoth yang menuju desa mereka. Dleh membunuh seorang mammoth jantan terbesar dan seketika reputasinya berubah dari anak pengecut menjadi pemuda terunggul di desanya. Evolet pun langsung jatuh ke pelukannya.

Namun saat kebahagiaan baru dirasakan oleh Dleh, desanya diobrak-abrik oleh suku penindas [keliatannya sih seperti orang2 Arab (?)] dan Evolet-nya diambil paksa. Dari sini cerita kepahlawanan Dleh, yang berusaha mengembalikan Evolet dan saudara2 sedesanya, bergulir.

Secara gambar, 10.000 BC boleh lah diacungi jempol. Gue menikmati pertempuran mammoth versus manusianya. Gue menikmati pemandangan pegunungan bersalju, padang pasir dan pemandangan dari atas ketinggiannya. Cantik.

Yang mengganggu hanya lah detail2 di sana-sini. Di satu sisi, film ini menampilkan Dleh dan sukunya yang masih berbaju kulit seadanya dan rumah seperti suku Asmat di Papua sana. Katanya sih prehistoric (pra-sejarah) tapi kok ada kapal a la bajak laut, piramid a la Mesir dan bahan kain beraneka warna yang nongol di sana? Terlalu nggak matching antara properti sama periode waktunya kalo kata gue.

Tapi yang paling mengganggu adalah klimaks ceritanya. Kenapa, oh, kenapa film ini harus berakhir happy ending. Yahhh, udah nggak ada bedanya dengan kisah superhero modern. Biar ending-nya sucks, film ini lumayan lah. Silakan ditonton sendiri.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply