Rusunami

Pencarian Makanan Enak (Dan) Murah di Kalibata City

Baiklah, jadi sebulan terakhir ini (akhirnya) saya menghuni rusunami saya di Kalibata. Setelah bertahun-tahun tinggal sama orang tua, tinggal di rumah sendiri sudah pasti banyak suka dukanya. Salah satu yang membuat saya harus memutar otak adalah soal makanan.

Berhubung kami belum melengkapi dapur kami dengan kompor (kalau diceritain panjang, deh, skip aja alasannya), setiap hari saya yang harus rajin-rajin ngider kompleks buat nyari masakan jadi yang cocok di lidah (dan di kantong).

Pada prinsipnya rumah makan/ warung di Kalibata City dapat dikelompokkan menjadi beberapa berdasarkan jenis masakan yang ditawarkan, yaitu: 1) masakan Jawa (termasuk warteg) 2) masakan Padang 3) internasional. Masakan Jawanya ciri khasnya pelit cabe tapi dermawan kecap. Masakan Padang kebalikannya karena biasanya cabenya boros.

Terus terang, saya lebih sering beli masakan Padang di luar sehabis pulang dari kantor. Soalnya kalau makan sendiri saja, saya lebih prefer beli masakan Jawa. Masakan Padang lebih untuk memenuhi selera suami. Lidah susah diboongin. Saya lebih seneng (masakan) yang manis. Kayak saya gitu deh #idih.

Ketiga adalah masakan internasional. Di tower Borneo ada pizza dan toko roti & bakery. Yang terakhir bolak-balik banget saya datangi untuk beli sarapan. Ada juga rumah makan khusus masakan Jepang.

Di luar ketiga mainstream, tidak sedikit yang jualan masakan Indonesia kayak nasi goreng, bebek goreng, pecel ayam, pempek, bakso sampai soto. Ada cerita sedikit soal yang terakhir, nih. Jadi ada satu warung (soto Lamongan) yang bikin penasaran. Setiap hari baru buka jam 9 pagi tetapi jam 1 siang udah abis aja jualannya. Enak? saya duga sih karena (lumayan) murah. Tapi kalau murah nggak enak pasti nggak laku. Saya penasaran!

Warung makan favorit saya terletak di tower Cendana (sengaja tidak menyebut nama, ah). Di rumah makan ini tersedia sayur krecek dan ayam goreng paling nikmat menurut penilaian lidah Jawa saya. Walaupun di beberapa masakan kadang kelewatan manis atau asinnya, lidah non-Jawa seperti si Jenong juga merasa cocok dengan masakan di sini. Soal harga standar, lah. Kekurangannya cuma porsinya yang rada pelit alias sedikit. Kalau lagi lapar berat, warung ini tidak direkomendasikan :D.

Warung makan dengan best value menurut saya adalah yang jualan di tower Gaharu. Warung ini berjualan makanan dengan konsep warteg dan ketupat sayur. Soal rasa cukup memuaskan. Harga masakan yang ditawarkan juga murah meriah. Seporsi ketupat sayur hanya 6 ribu rupiah saja. Padahal di tower lain saya pernah makan bubur ayam (yang rasanya parah!) seporsi 10 ribu.

Sementara warung makan paling ramai adalah yang terletak di tower Damar. Warung ini jual bebek, ikan dan ayam. Jual kelapa muda juga. Buka 24 jam. Paling ramai di atas jam 9 malam.

Satu jenis masakan favorit yang belum saya temukan di kompleks ini adalah yang menjual seafood. Hmmm, apa sudah ada ya? Atau saya kurang gaul? 😀 Oh ya, pengamatan saya seputar makanan di ruko-ruko Kalibata City tidak termasuk di mall-nya, lho. Kalau itu akan saya ceritakan di postingan lain saja ya!

Until then, bubye! #kabur #carimakan

Previous Post Next Post

You Might Also Like

2 Comments

  • Roy Boy Haris April 29, 2013 at 11:10 am

    mantap..

  • Simply Mels » Yang Gratis di Kalibata City February 10, 2012 at 11:33 am

    […] pertama datang pada Sabtu siang itu. Karena nggak masak jadi saya pun menuju warung makan langganan saya di tower Gaharu. Awalnya tidak ada yang “aneh” yang dirasakan. Saya pesan makan seperti […]

  • Leave a Reply