Movie, Review

Review ‘127 Hours’: Mengukur Batas Ketahanan Manusia

127-hours-poster

Setiap manusia dianugerahi Tuhan kemampuan untuk bertahan hidup. Termasuk saat mereka menghadapi permasalahan atau terjebak di antara hidup dan mati. Itulah yang menjadi intisari film ‘127 hours’.

Aron Ralston (James Franco) adalah seorang pemanjat tebing yang gemar tantangan. Kegemaran itu sampai membuatnya berjarak dengan orang-orang terdekatnya.Tanpa pamit, suatu hari dia memutuskan untuk berpetualang. Kali ini tujuannya adalah menaklukkan tebing-tebing cadas di sebuah daerah terpencil di Utah.

Pada awalnya petualangannya berjalan mulus. Setelah beberapa jam berkendara mengarungi gurun, Ralston mulai menguji ketahanan tubuhnya menggunakan sepeda lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki. Di perjalanan dia pun sempat bertemu dua petualang cantik.

Namun saat sedang asyik-asyiknya menjelajahi deretan tebing, petaka datang. Ralston terpeleset sehingga terperosok ke dalam jurang yang sempit. Lebih sial lagi tangan kanannya terjepit pecahan batu.Terjepit di jurang terpencil, dengan perlengkapan seadanya, Ralston harus berjuang selama 127 jam guna membebaskan dirinya dari maut. Inikah akhir petualangannya?

Film ini merupakan kisah nyata yang diangkat sutradara David Boyle ke dalam film. Selama 92 menit penonton bakal banyak disuguhi oleh adegan di jurang terpencil. Namun entah mengapa tidak sedikitpun terbesit rasa bosan. Adegan di jurang sempit diselingi flashback kehidupan Ralston, yang berujung perubahan emosi dan sikapnya.

Selama film berlangsung tak pelak mata kita akan terpaku pada tokoh Ralston. Untungnya Franco bermain sangat baik. Aktor yang pernah bermain di film ‘Eat, Pray, Love’ ini menurut saya berhasil membuat penontonnya berempati dengan kondisinya. Well done, gorgeous! 😀

Cuma bisa bilang, salah satu film paling saya rekomendasikan untuk ditonton tahun ini.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply