Movie, Review, Saya

Dari Layar Tancap ke Cineplex

bioskop

Berhubung belum ada ide menulis review film, mari menulis yang lain! Bagi penghobi nonton, tentunya tidak asing dengan bioskop. Tapi tahukah kamu kalau bioskop sudah ada sejak sebelum abad ke-XX?

Adalah Koster and Bial’s Music Hall di kota New York yang pertama kali menampilkan pertunjukan film melalui media proyektor pada 1896. Namun bangunan yang khusus memutar film pertama ada di New Orleans. Vitascope Hall berdiri tahun 1896, dari bekas bangunan toko.

Di Indonesia, bioskop pertama berdiri pada Desember 1900 di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Menurut Wikipedia, waktu itu karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak. Sekarang, bioskop merupakan tempat hiburan yang tidak terpisahkan dengan masyarakat. Di Jakarta saja, menjamur berbagai macam bioskop dengan keunggulan masing-masing. Berikut diantaranya:

1. Cineplex alias gedung bioskop dengan lebih dari satu layar. Di Indonesia, Cineplex 21 adalah jaringan bioskop terbesar yang memiliki outlet di hampir seluruh penjuru Indonesia. Jaringan bioskop ini bersaing dengan jaringan bioskop Blitzmegaplex.

Hampir semua genre film bisa ditonton di sini. Mayoritas masih film-film keluaran Hollywood dan nasional, tapi film Bollywood atau film Mandarin juga mendapatkan tempat. Ada juga beberapa bioskop cineplex yang menawarkan pemutaran film 3-D. Bedanya dengan film biasa, nonton film 3-D mengharuskan penggunaan kacamata khusus. Kebanyakan film yang diputar pun ber-genre animasi atau action.

Perkembangannya sekarang, ada bioskop yang menawarkan perpaduan nonton sambil dining alias makan malam. Ada juga yang menawarkan sensasi nonton bioskop di atas tempat tidur! Yang pertama bisa ditemui di Blitz Dining Cinema, Mall of Indonesia, sementara sensasi nonton sambil tiduran ada di Velvet Class Blitzmegaplex, Pacific Place.

2. IMAX. Setahu saya di Jakarta bioskop jenis ini hanya ada di kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Di sini, penonton disuguhi layar super lebar dan kualitas visual maksimal yang keluar dari proyektor IMAX. Dulu film yang diputar adalah film-film yang bertema pendidikan. Tetapi sekarang sudah masuk film yang juga diputar di cineplex. Oh ya, kabarnya dalam tahun ini IMAX juga bakal segera memutar film berformat 4-D!

3. Private Theatre. Kalau bioskop didefinisikan sebagai tempat yang dikhususkan untuk menonton film ramai-ramai maka venue ini termasuk. Kalau di Jakarta, private theater contohnya di Cafe Keku:n, Kemang. Menonton di ruangan tertutup dengan fasilitas home theatre dan sofa empuk. Film yang diputar pun bisa dipilih sendiri sesuai keinginan. Alternatif yang menarik, ya?

4. Layar tancep. Walaupun jaman sudah modern, tradisi nonton di ruang terbuka alias layar tancep masih bisa ditemui dimana-mana. Di Indonesia, utamanya muncul apabila ada resepsi pernikahan atau perayaan. Nonton layar tancep identik dengan misbar alias gerimis bubar 😀

Saya pribadi paling sering nonton di cineplex. Alasannya karena jaringannya ada di mana-mana. Harga tiap outlet pun bersaing tergantung lokasi, walau jaringan bioskop ini punya tarif batas bawah dan atas. Tapi sekali-sekali tertarik juga, sih, nonton dengan atmosfer yang berbeda. Kalau kamu?

Image: dari Google

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply