Movie, Review, Saya

Dua yang Bikin Bangga Jadi Orang Indonesia

4a09339de074bf1df11d171c630bb1de_poster-the-raid2

Kali ini saya sengaja tidak menulis review film tertentu di blog ini. Sejak terakhir membuat postingan di blog ini sudah cukup banyak film yang saya tonton, sehingga tidak adil rasanya jika hanya menulis satu review film saja.

Film-film yang saya tonton ber-genre beragam, mulai drama sampai action. Dari yang menguras emosi sampai berdarah-darah. Tidak seperti biasanya dua genre action terakhir yang saya tonton adalah karya sineas Indonesia. ‘Killers’ dan ‘The Raid 2: Berandal’ punya beberapa kesamaan.

Keduanya sama-sama premier di festival film di luar negeri. Keduanya sama-sama menampilkan “penjahat” berdarah Jepang. Yang ketiga, kedua film ini sama-sama sarat kekerasan dan pertumpahan darah. Konten hanya untuk 17+.

‘Killers’ bercerita tentang seorang wartawan bernama Bayu (Oka Antara) yang gemar menonton video pembunuhan yang diunggah seseorang di internet. Video pembunuhan yang dibuat dan dilakukan oleh Nomura (Kazuki Kitamura) di Jepang itu dibuat sangat detail, nyata dan berseri sehingga membuat Bayu “kecanduan”.

Pada suatu ketika terjadi upaya perampokan di taksi, secara tidak sengaja, Bayu menjelma sebagai pembunuh seperti yang kerap dilihatnya.

Sedangkan ‘The Raid 2: Berandal’ bercerita tentang tokoh Rama (Iko Uwais), yang menyamar sebagai anggota sindikat kejahatan pimpinan Bangun (Tio Pakusadewo) untuk membongkar kedok koruptor dalam tubuh kepolisian. Rama seligus memiliki misi untuk membalas dendam atas pembunuhan kakaknya.

Guna mendapatkan kepercayaan Bangun, Rama pun mendekati Uco (Arifin Putra), anaknya. Uco yang ambisius bekerjasama dengan Bejo (Alex Abbad), hingga memicu “perang” melawan sindikat yang dipimpin oleh Goto (Kenichi Endo). Rama pun harus berhadapan dengan para jagoan silat anak buah Goto dan Bejo.

Secara cerita, Killers yang ditulis oleh duo Jepang-Indonesia, Takuji Ushiyama-Timo Tjahjanto, cukup menarik. Menggambarkan bagaimana dua manusia yang terpisah jarak yang cukup jauh bisa terikat secara emosi melalui video. Asal-usul psikopat berkepribadian ganda di film ini juga ditunjukkan dengan cukup mengalir.

Di ‘The Raid 2’, banyak pemain yang tampil baik. Seperti Arifin Putra dan Julie Estelle. Dua pemain ini sudah pernah saya puji aktingnya di film ‘Rumah Dara’, saat Arifin bermain sebagai antagonis dan Julie menjadi protagonisnya. Di film ini Julie menaikkan level individunya dengan aksi bela diri yang oke.

Memang, secara cerita, film ‘The Raid 2’ lebih berwarna. Laga satu lawan satu yang ditampilkan juga tampak lebih sulit dari film pertama, misalnya pada adegan Rama vs jagoan andalan Bejo di sebuah dapur. Proud that pencak silat is originated from Indonesia.

Namun, jujur saja, saya lebih menikmati ketegangan yang ditawarkan film pertamanya. Naik turun jalan cerita terlalu tajam, misalnya, saat seorang algojo andalan tertunduk loyo ketika diberondong pertanyaan memojokkan oleh mantan istrinya. Padahal, sebelumnya sang algojo baru saja menebas musuh dengan pedangnya.

Sebagai karya sineas Indonesia yang juga mampu diterima warga dunia,’ The Raid 2′ dan ‘Killers’ cukup membanggakan. Andai saja, film ber-genre drama cerdas tanpa pertumpahan darah semacam ‘Her’ bisa juga dihasilkan sineas lokal. Seandainya…

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply