pendukung timnas (detikfoto)
Sports

Juara Tanpa Mahkota

Tiga tahun lalu saya ingat pernah menulis soal histeria masyarakat Indonesia terhadap timnas Indonesia.  Di Piala Asia ketika itu, timnas tampil gagah berani meski berada satu grup dengan tim-tim kuat Asia seperti Korea Selatan, Arab Saudi dan Bahrain. Menang lawan Bahrain dengan skor 2-1 menjulangkan semangat untuk mendukung anak asuh Ivan Kolev kala itu.

Pertandingan melawan Arab Saudi beberapa hari setelahnya pun disemuti para pendukung. Saya beruntung menjadi saksi di Gelora Bung Karno malam itu, dimana puluhan ribu pendukung tim ‘Garuda’ bernyanyi dan berteriak. Merinding dibuatnya. Timnas kalah 1-2 tapi keesokan harinya muncul headline ‘Kalah dengan Kepala Tegak’. Yes, we are proud of the team.

Di pertandingan terakhir grup timnas kalah lagi, kali ini lawan Korsel 1-0. Namun timnas sudah kadung jadi idola.

Tiga tahun berselang, euforia yang sama hadir kembali. Kali ini lebih dahsyat. Ajangnya memang ‘hanya’ Piala AFF, tapi timnas bermain luar biasa. Menghajar Malaysia di pertandingan pembuka 2-1, menggunduli Laos 6-0 dan mengungguli Thailand 2-1 di babak penyisihan grup yang menjadi pemicunya.

Sanjungan terhadap timnas dari media dan penggila bola tanah air menjulang. Bahkan infotainment (yang biasanya meliput sepak terjang selebritas) mendadak menjadikan para punggawa timnas seperti Irfan Bachdim, Cristian Gonzalez, Bambang Pamungkas selayaknya seleb papan atas tanah air. Diliput dan dipuja-puji.  Sanjungan makin menjadi-jadi setelah di semifinal timnas menyingkirkan Filipina (home dan away) dengan skor masing-masing 1-0.

Sayangnya, eforia masyarakat dimanfaatkan secara licik oleh pihak-pihak yang menyebut dirinya politikus. Timnas ‘dijual’ sebagai dagangan kampanye 2014. Bahkan kampanye terselubung ini dilakukan sampai ke Bukit Jalil, kandang lawan Indonesia di final. Memalukan!

Final leg pertama Piala AFF menjadi saksi limbungnya timnas. Entah karena berbagai gangguan non-teknis menjelang final atau karena lawan bermain lebih ciamik, Firman Utina cs dilibas Malaysia 3-0. Saat menjamu tim yang sama di GBK akhirnya ‘timnas’ hanya mampu menang 2-1 sehingga kalah agregat 4-2. Perjuangan sudah mati-matian. Namun tim yang gagah di babak penyisihan sampai semifinal ini gagal jadi juara.

Istimewanya timnas punya pendukung yang luar biasa. Mereka memang gagal jadi juara. Tapi sampai hari ini nyaris seluruh masyarakat tetap mengelu-elukan mereka. Nggak hanya di GBK, di berbagai tempat riuh dengan nonton bareng (nobar). Yes, we are proud of  the team.

Teruslah terbang ‘Garuda’-ku! Walaupun tanpa mahkota timnas sudah menjadi juara. Juara di hati para pendukungnya.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply