Movie, Review

Jumper

Yang punya obsesi keliling dunia, berharap lah dikasi anugerah sebagai Jumper. Iya, dengan menjadi seorang pelompat, keliling dunia semudah membalikan telapak tangan.

Pintu Kemana Saja-nya Doraemon sudah jelas kalah keren jika dibandingkan dengan anugerah menjadi seorang Jumper. Tinggal pegang gambar atau konsentrasi tempat yang ingin dikunjungi, sekejap sampai di tempatnya.

Itulah yang dialami oleh David Rice. Pemuda culun di SMA, yang baru menyadari anugerah sebagai pelompat saat berkubang maut di danau es dekat sekolahnya. Delapan tahun setelah pengalaman pertamanya, David memenuhi keinginannya dengan maksimal.

Dengan uang yang dengan gampangnya dia peroleh dari BANK, David dengan mudah makan pagi di apartemen kerennya di New York, ber-surfing ria di Fiji, melepas lelah di Cairo dan menghabiskan malam di London hanya dalam tempo 24 jam. Sangking gampangnya berpindah tempat, David hampir tidak pernah tahu cara membuka pintu apartemennya sendiri.

Tapi ketentraman David terusik oleh kehadiran seseorang bernama Roland Cox. Tokoh yang diperankan oleh Samuel L Jackson itu adalah seorang Paladin, pemburu Jumper, yang sadis dan nggak kenal ampun. Kehidupan David diperumit dengan obsesi sesama Jumper, yang keberadaannya tidak pernah diketahui oleh David, bernama Griffin dan CLBK-nya dengan Millie.

Dari sisi efek, gue sangat terhibur sama film ini. Perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lain cukup mulus dan enak diliat, walau karena itu sering gue harus menebak-nebak David sedang berada dimana sekarang.

Tapi dari sisi cerita, hmm, kayaknya gak sebagus efeknya. Gue yakin ini film pasti bakal bersekuel, secara habisnya menyisakan cukup banyak ruang yang bisa di-explore lebih jauh.

Seperti gimana nasib Mary Rice, ibunda yang meninggalkan David saat mengetahui bahwa anaknya seorang Jumper. Nasib Cox, yang ditinggalkan David di sebuah lokasi antah-berantah. Atau nasib Griffin, yang tiba-tiba saja menghilang dalam cerita. Mungkin ada baiknya mengintip cerita selengkapnya di novel fiksinya yang dikarang oleh Steven Gould.

Terhibur dengan efek, cukup terhibur dengan cerita, tidak cukup terhibur dengan moral of the story-nya. Terlalu mengawang-awang. If only I could be David for a day.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply