keraton cirebon 1
Traveling

Keraton Cirebon dan Pelestarian Budaya

keraton cirebon 1Melihat kemeriahan Royal Wedding putri Keraton Jogjakarta di media beberapa waktu lalu mengingatkan saya untuk menulis postingan ini.

Salah satu itinerary perjalanan kami ke Cirebon beberapa waktu yang lalu adalah ke Keraton Cirebon. Dari hasil browsing ada dua keraton yang paling terkemuka yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman.

Dari plang di sebuah jalan, dua keraton ini dipisahkan oleh arah ke Barat dan Timur. Dan di hari itu kami memilih menyambangi Keraton Kasepuhan.

Masuk ke keraton ini masing-masing orang di-charge dengan biaya Rp 8000 per orang. Pengunjung bisa memilih untuk memakai jasa guide atau tidak.

Pada waktu saya datang, beberapa bagian dari keraton ini sedang mengalami renovasi. Oh ya, salah satu ciri arsitektur Cirebon adalah tembok bata merah yang disusun membentuk gapura. Ciri arsitektur tersebut cukup menonjol di keraton ini, misalnya di Siti Inggil atau Lemah Duwur.

Dari Wikipedia disebutkan bahwa keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yaitu kereta Singa Barong yang merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati. Kereta ini saat ini tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.

Di dalam bangunan yang sama dengan kereta Singa Barong, terdapat juga lukisan Prabu Siliwangi dan tandu permaisuri yang antik. Sementara di bangunan lain terdapat gamelan, senjata, keramik serta perlengkapan rumah tangga jadul yang pernah dipakai keluarga keraton.

Jika dibandingkan dengan Keraton Jogja dan Kasunanan Solo, menurut saya Keraton Cirebon kurang terawat. Menjadi pekerjaan rumah bagi pejabat daerah untuk pelestariannya mengingat keraton ini adalah salah satu obyek wisata andalan.

Bentuk kurang perawatannya juga bisa terlihat di Masjid Agung yang terletak di depan Keraton Cirebon. Masjid ini ketika saya datangi tampak kusam. Di depan pintu masuk pun banyak pengemis berjejeran hingga membuat kami tidak betah berlama-lama.

Di depan keraton juga terdapat alun-alun. Namun menurut pedagang di kawasan itu alun-alun hanya ramai ketika sedang ada acara seperti perayaan 1 Syawal.

Pemandangan yang sungguh berbeda dengan Masjid At-Taqwa di alun-alun depan rumah dinas Walikota Cirebon yang megah dan sangat nyaman untuk sholat. Arsitekturnya yang modern juga sedap dipandang. Alun-alun di depan Masjid At-Taqwa selalu ramai jika malam minggu tiba. Beragam pedagang makanan membuka lapak di trotoar dan membuat macet jalan. Banyak anak muda yang juga nongkrong di sepanjang jalan di depan alun-alun sampai ke balaikota.

Bagaimanapun, berkunjung ke kota dengan warisan budaya lokal yang kental selalu menarik buat saya. Mudah-mudahan pemerintah daerah mampu melestarikannya sehingga kekayaan budaya akan selalu menjadi andalan wisatanya.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply