Traveling

Pengalaman Kesasar di Sydney

Untuk kesekian kalinya, saya harus jadi turis mandiri di negeri orang. Tapi kalau dibandingkan Amerika, di Sydney saya cukup banyak ketemu orang Asia. Tiap hari minimal ketemu satu perempuan berjilbab di jalan yang dari wajah antara dua: orang Malaysia atau Indonesia. Dengan kondisi ini jalan-jalan jadi lebih percaya diri.

Seperti biasa kalau ke luar negeri, saya pasti pengen nyobain moda transportasi lokalnya. Di Sydney ada beberapa moda transportasi yang bisa dicoba. Selain taksi ada feri, train (subway), trem/ light rail, monorail dan bus. Pas saya datang ke sana, sedang ada pembangunan untuk jalur trem. Mungkin area jelajahnya mau diperbanyak. Jadi, ada beberapa jalan ditutup dan sebagian lagi dialihkan.

Di hari pertama sampai di Sydney saya sempat dibilangi oleh Warga Negara Indonesia yang sempat menemani saya dan rombongan dari Indonesia jalan-jalan kalau transportasi umum di Sydney kurang bagus. Train-nya ribet dan busnya juga agak membingungkan. Mangkanya lebih banyak orang memilih naik taksi, punya mobil sendiri atau jalan kaki kemana-mana. Saya nggak terlalu percaya sampai mengalami sendiri kesasar di Sydney.

Jadi hari kedua di Sydney saya sendirian. Rombongan dari Indonesia di hari sebelumnya balik hari itu, sedangkan flight balik saya baru keesokan sorenya. Mau minta temani WNI di Sydney nggak enak karena baru kenal, so, saya pilih jalan-jalan sendiri. Toh, hotel tempat saya menginap berada di pusat kota dan nggak terlalu jauh kemana-mana. Seharusnya.

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya sering sekali melewatkan detail. Seperti pas di Sydney. Padahal sudah pegang peta hasil ngambil di airport, tapi petanya nggak dibaca. Alhasil pada waktu udah sore di hari kedua jalan-jalan saya sotoy berat naik train tanpa tahu mau turun di stasiun mana.

Dari pertama pengen beli tiket di stasiun saya sudah bingung. Beruntung saya dibantu orang lokal Aussie yang kayaknya kasian liat saya kebingungan di depan vending machine tiket. Pas saya bilang saya mau ke Market City, cowok berjenggot itu langsung mencet tulisan Central Station dan nyuruh saya masukin duit. Saya memutuskan beli tiket return (bolak-balik) supaya nggak ribet. Beli tiket done. Selesai dari situ saya tambah bingung.

Weladalah, jalur train-nya ribet banget. Intersections antar line banyak, sedangkan platform menuju line yang diinginkan nggak kalah banyaknya. Sama sekali nggak punya petunjuk, saya nanya sama petugas di dekat pintu keluar. Pas saya bilang mau ke Market City, dia malah ngomong sesuatu yang bikin saya pengen teriak “KZL KZL KZL”. Terjemahannya kira-kira gini: “Market City? Kamu jalan kaki aja sih, kalau naik kereta cuma satu pemberhentian aja, udah gitu kamu harus jalan lagi. Percuma. Jalan kaki aja paling-paling 20 menit menuju George Street terus….”  Dari penjelasan singkat itu saya memutuskan untuk jalan kaki.

Taaaapi derita saya belum selesai di situ karena untuk keluar dari stasiun aja saya nggak ngerti mengoperasikan pintu keluarnya! Oooh, memalukan sekali, sampai-sampai saya harus dibantu sama cewek Aussie yang baik banget. Dia sempat bilang, “Emang ini sistem pintunya agak ribet”. Dua kali dibantu, saya berkesimpulan orang Aussie kebanyakan sangat helpful sama turis.

Keluar dari stasiun kereta bawah tanah saya jalan kaki menuju George Street. Jalan  satu blok, dua blok, tet tot! Saya lupa dari ujung George Street harus belok kanan atau kiri :(. Alhasil saya belok kanan kiri dan sembarangan aja sampai akhirnya merasa terjebak dalam labirin. Pasrah plus capek saya memutuskan untuk menuju jembatan yang udah dari jauh saya lihat. Saya nggak tau tempat apa itu sampai akhirnya ngerti namanya adalah Darling Harbour.

Wew, nggak nyangka bisa kesasar di pusat kota Sydney sampai akhirnya hari itu melihat “sesuatu”. Di Darling Harbour cukup banyak tempat yang bisa di-eksplor, salah satunya Museum Madame Tussauds –yang sempat saya datangi. Puas, at least lihat sesuatu hari itu. Pulang dari Darling Harbour saya lapar berat dan berniat keliling lagi nyari Mcdonalds/ KFC. (Please, jangan diketawain :P)

Belajar dari pengalaman hari pertama, di hari kedua saya berniat mempelajari peta baik-baik sebelum berangkat dari hotel. Apalagi hari itu saya pulang, jadi nggak boleh nyasar lagi. Saya antisipasi dengan jalan pagi sebelum jam 10. Ternyata, Market City itu lumayan dekat dari hotel saya di Market Street. Saya cuma dibantu sekali sama orang Aussie untuk menemukan Dixon Street dan voilaaa ketemu deh Market City. Total, jalan kaki santai 30 menit aja.

Beres belanja di Market City jam baru menunjukkan jam 12. Tadinya saya kepengen jalan-jalan nyari Sydney Opera House tapi berhubung belanjaan oleh-oleh berat banget jadi setelah jalan 30 menit mager-lah di pelataran mall belakang hotel. Bener-bener mager sambil mijit kaki yang minta ampun pegelnya. Secara di Jakarta jarang banget jalan kaki/ olahraga.

Setelah sampai ke Jakarta, saya baru browsing serius soal transportasi umum di Sydney. Dan ternyata untuk transportasi umum, semua informasinya lengkap di situs ini. Huaaaa, kemana aja lo, Mel.

Tulisan ini sebagai reminder kalau suatu hari nanti saya ke Sydney lagi (Aamiin). Sekaligus reminder untuk tidak lupa browsing sebelum pergi kemanapun. Semoga tidak pernah nyasar lagi di negeri orang.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply