indomie
Lifestyle

Ketika Mie Instan Naik Kelas

Foto: Ilustrasi (Simplymels) Jadi, salah satu makanan kesukaan saya adalah mie. Segala jenis mie doyan banget. Salah satunya Mie instan. Mangkanya nih badan melar gini #ehmalahcurhat.

Dulu, kalau nggak bikin sendiri di rumah, banyak warung mie pinggiran yang bisa memuaskan dahaga. Apalagi kalau makannya pas jam kritis sore nan mendung gitu, seporsi mie rebus udah paling juara.

Di warung mie pinggiran seporsi Rp 6.500 udah sama telur. Tambah teh manis dompet ngeluarin uang nggak sampai Rp 10.000. Perut pun kenyang dan bahagia.

Itu dulu. Sebelum naik kelas. Mie yang naik kelas itu maksudnya, mie dengan topping berupa-rupa yang dijual di resto. Ada kornet, sosis, daging sapi, potongan dada ayam dsb. Tampilannya juga dipercantik, gak lagi cuma mie campur telur saja. Minuman pendampingnya pun berupa-rupa. Ada capuccino, teh tarik sampai milkshake.

Di resto-resto kayak gini harga mie rebus pun nggak lagi serupa. Di Dapoer Roti Bakar, resto di bilangan Pasar Minggu, seporsi mie dijual mulai harga Rp 8.000 untuk yang biasa. Kalau mau yang toppingnya kornet (Australia), misalnya, banderolnya Rp 12.000.

Harga mie instan seporsi bisa naik drastis di kawasan tertentu. Di Warung Mevvah kawasan Pantai Indah Kapuk seporsi rata-rata Rp 20.000-an tergantung menu yang dipilih. Selain ditambah beragam topping, ada juga mie yang kuahnya sudah dimodifikasi, misalnya, dengan kuah tekwan –makanan tradisional Palembang. Kata suami sih perpaduannya enak.

Memang resto-resto ini nggak cuma ngandelin menu mie instan aja, tapi juga dekorasi yang kekinian dan, juaranya, menyediakan wi-fi gratis!

Dulu sih nggak bakal nyangka untuk seporsi mie instan yang sebungkusnya dibeli nggak nyampe Rp 5.000 bisa dijual Rp 20.000, tapi ternyata dengan kemasan yang tepat mie instan bisa juga naik kelas.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply