apple in schools
Lifestyle

Kisah ‘Apel’ Sahabat Anak di Jakarta

Hari Sabtu yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah sekolah lanjutan di Jakarta. Sekolah ini berkonsep IB alias International Baccalaureate.

Yang saya pahami dari obrolan singkat dengan marketing sekolah, kurikulum dengan sistem IB adalah kurikulum dimana anak dibebaskan untuk memilih dengan berbagai mata pelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat anak. SMA dengan sistem ini juga berlangsung 2 tahun saja, dimana di tahun terakhir anak bisa mengambil program Diploma sebelum ke Universitas.

Untuk orang awam satu kata yang menggambarkan sekolah dengan sistem ini adalah MAHAL! Gimana enggak, masuk SD saja uang pangkalnya mencapai Rp 30 juta. Hiks! Setara dengan uang kuliah saya berapa semester ya itu.

Anyway, kedatangan saya ke sekolah tersebut adalah untuk melakukan workshop membuat blog. Ada sekitar 15 anak berusia 11-13 tahun (kelas 6 sd 2 SMP) yang ikutan workshop kala itu. Pukul 9 pagi mereka sudah duduk manis di perpustakaan yang disulap menjadi kelas.

Setelah saya dan rekan diperkenalkan di depan oleh marketing sekolah, satu per satu anak mengeluarkan laptopnya. Aneh tapi nyata, dari sekian banyak anak tak satu pun yang menggunakan laptop tanpa logo apel tergigit di depannya.

Dan saya merasa seperti berada di Apple Store ketika mendatangi meja mereka satu per satu. Sebab berbagai tipe laptop Apple saya temukan. Mulai dari Macbook Pro sampai Macbook Air. Dan mereka terlihat sangat fasih mengetak-ngetikan jemari di atas laptopnya.

Secara bercanda saya bilang ke rekan, “Kalau kita nggak pakai Apple, nggak ditemenin kali ya di sini.”

Keberadaan merk yang dibangun oleh Steve Jobs ini sebagai penunjang gaya hidup di Jakarta tampaknya memang tak terelakkan lagi. Keponakan saya yang baru berumur 3 tahun, misalnya, sudah sangat fasih bermain Angry Birds di iPad. Kakaknya yang berusia 6 tahun apalagi. Bukan cuma Apple sebetulnya. Tapi bermacam gadget high-end lainnya. Mulai dari smartphone Samsung sampai tablet seperti Samsung Galaxy Tab.

Saya pernah membaca di sebuah majalah (lupa namanya) bahwa anak-anak kelahiran tahun 2000-an telah menjelma menjadi yang disebut Generasi Internet. Mereka adalah Generasi Digital yang tumbuh besar bersama gadget sejak umur sangat dini.

Keadaan mereka tentu tak terlepas dari gaya hidup orang tuanya sudah serba digital. Maka nggak heran kalau suatu hari kita menemukan satu keluarga yang (seharusnya) sedang makan bersama di restoran di mal malah sibuk dengan gadget di tangannya masing-masing. Huft!

Di zaman yang serba digital seperti sekarang menjadi orang tua menjadi sangat banyak tantangannya. Diantaranya adalah selalu keep up dengan pergaulan dan perkembangan zaman. Hayuk, jangan gaptek!

Previous Post Next Post

You Might Also Like

2 Comments

  • kekenaima November 10, 2012 at 3:19 pm

    kl udah pk Apple biasanya udah susah pindah ke lain hati.. termasuk sy yg uda cinta berat sm mac book sy.. hehehe.. 😀

    • mels November 13, 2012 at 11:09 am

      hahahaha gitu ya mba…

    Leave a Reply