IMG_20150309_121259
Saya

Masak-memasak di Rumah Vertikal

Kayaknya saya tahu kunci untuk sering update di blog ini. Kuncinya adalah… eng, ing, eng… sering beraktivitas di rumah.

Seperti sudah pernah saya tulis beberapa kali di blog ini, tinggal di rumah vertikal di tengah kota Jakarta itu sungguh-sungguh menjadi “surga” bagi orang yang tidak rajin. *nggakmaubilangmalas*

Malas bersih-bersih rumah, ada jasa cleaning service. Malas nyuci, tersedia banyak laundry kiloan. Malas masak? rumah makan bertebaran dimana-mana tinggal dipilih. Bahkan malas gerak aja ada solusinya!

Jadi kunci untuk tidak tergoda dengan semua kesenangan itu adalah bergerak. Selama ini sih saya sudah berusaha bergerak. Mulai dari bersih-bersih rumah sendiri, nyuci pakaian dalam sendiri sampai sekarang (mencoba) rutin memasak. *jedarnggaktuh*

Gara-garanya suami nyentil dengan omongan “Kayaknya kamu harus mulai masak lagi deh.” Suami baru aja habis sembuh dari gejala tifus –yang kata orang salah satu penyebabnya karena makan sembarangan. Omongannya langsung jadi semacam wake up call buat saya.

So here we go, again…

Mulai dari beli sayur-mayur dan lauk. Alhamdulillah, di tower tempat saya tinggal di Kalibata City ada ruko yang khusus jualan sayur-mayur dan lauk. Harga barang-barang yang dijual jelas lebih miring dari supermarket di lantai dasar. Lebih enaknya lagi, di sini bisa beli dengan jumlah sedikit. Maklum, saya masak hanya untuk berdua. Untuk bekal makan siang dan makan malam –yang sedang dikurangi porsinya. Sarapan tetap beli tapi cemilan ringan saja. Atau roti tawar.

Hampir setiap pagi setelah mandi dan nyiapin teh/ kopi untuk suami, saya nimbrung dengan beberapa ibu di depan ruko itu. Biasanya cepet aja sih –nggak pakai ngegosip dulu– beli lauk berbahan dasar protein, sayur dan bumbu dasar atau bumbu instan sachet-an (kalau nggak ada waktu bikin sendiri) secukupnya.

Saya kapok beli bawang merah, bawang putih, cabe, atau bahkan bumbu instan terlalu banyak. Soalnya seringkali terbuang sangking lamanya gak dipakai. Contohnya kemarin habis buang saus tiram sebotol karena sudah kadaluarsa.

Setelah beli lauk dan sayur, saya mengalokasikan rata-rata 1 jam untuk memasak dua jenis masakan. Sejauh ini sih selalu nggak telat ke kantor. Bersyukur, kantor kami berdua tidak terlalu jauh dari rumah. Dengan motor cukup 15 menit saja.

Pulang kerja, kalau tidak terlalu malam dan nggak capek, masak lagi yang lebih sederhana untuk makan malam.

Kalau dibilang ribet dan capek masak sendiri sih iya, tapi kalau lihat suami habis memakan masakan saya capeknya langsung hilang.

Huff, udah kepanjangan ni ceritanya. Kalau nggak kumat malasnya saya mau share menu mingguan sederhana yang sudah saya coba. Besok masak apalagi ya?

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply