durian jatuh
Traveling

Menanti Durian Jatuh

durian jatuh

Di halaman rumah keluarga suami saya di Jambi tumbuh pohon durian, pohon sawo dan pohon rambutan. Dari semuanya, pohon durian yang paling tua usianya. Tidak heran tingginya menjulang sampai melebihi atap rumah yang sudah tinggi.

Kata suami, pohon durian itu tidak pernah ditebang. Pun buahnya, tidak pernah sengaja dijaring. “Jadi ngambil buahnya gimana?,” tanya saya. “Ya, tunggu buahnya jatuh!,” jawab suami.

Ya, menunggu durian jatuh di halaman rumah pun menjadi aktivitas mengasyikan bagi keluarga dari Jakarta.

Begitu mendengar bunyi “duk!”, sepupu yang meninggali rumah pun otomatis berteriak, “Duriaaan!” Kalau sudah begitu anggota keluarga pasti langsung berlarian menuju halaman -termasuk saya- hehehe.

Kadang, durian jatuh ini juga menjadi incaran tetangga sekitar rumah. Kata suami, “Mereka kebiasaan karena dari dulu ayah nggak pernah melarang orang ngambil buah jatuh di sini.”

Karena sering mendengar bunyi “duk!” setiap pagi, siang, sore bahkan malam hari saya jadi benar-benar hapal bunyi durian jatuh. Bagaimana tidak? Dalam sehari, durian yang jatuh bisa mencapai puluhan. Adapun besarnya bervariasi. Namun rasanya sama-sama manis. Mayoritas durian yang jatuh dimakan begitu saja. Sebagian lagi dijadikan bahan baku tempoyak atau lempuk.

Sayang karena tidak mungkin dibawa pulang ke Jakarta, buah-buah durian manis tersebut cukup dinikmati di Jambi saja. Padahal kalau bisa dibawa pulang kan lumayan buat dimakan atau dijual lagi hahaha.

“Duriaaan.”

Previous Post Next Post

You Might Also Like

2 Comments

  • keke naima September 2, 2013 at 4:31 am

    hahaha seru bgt nunggu durian jatuh. Tp rasanya emang enak 🙂

  • Leave a Reply