sade-kecil
Traveling

Mengenal Desa adat suku sasak di desa Sade

Salah satu obyek wisata yang sempat saya kunjungi di Pulau Lombok adalah desa adat suku sasak di desa sade.

Sebagai salah satu obyek wisata unggulan lokasi ini ramai sekali saat liburan. Di sini kita bisa mendapati banyak info soal suku sasak. Eh, bisa belanja juga lho.

Masuk ke desa adat kita dapat melihat lebih dekat rumah adat dan suasana di perkampungan adat. Kebanyakan rumah dibangun dengan bahan baku nyaris serupa, yaitu lantai beralas tanah dan atap dari rumbia. Yang unik lantainya biasa dipel dengan kotoran sapi. Bau? Ketika saya melongok ke dalam rumah nggak juga sih. Malah lantainya terlihat cukup kinclong.

Namun ada juga beberapa bangunan yang memiliki fungsi berbeda. Misalnya pendopo dan bangunan untuk menyimpan padi.

Di beberapa sudut bisa kita temui perempuan suku sasak yang tengah menenun kain atau membuat kerajinan tangan seperti gelang atau peci. Barang hasil kerajinan penduduk bisa dibeli. Khusus untuk kain, karena dibuat handmade jadi harga tentulah lebih tinggi dibandingkan yang print atau celup yang dijual di banyak toko. Tapi untuk gelang dan peci sangat terjangkau.

Selain melihat rumah adat dan suasana perkampungan, local guide juga akan bercerita tentang adat yang masih dipegang teguh oleh para penduduk.

Diantaranya adalah adat yang masih dipegang dalam pernikahan yaitu tradisi nyulik. Jika di suku-suku lain umumnya calon pengantin laki-laki meminta izin ke keluarga calon perempuan sebelum melamar, maka di Lombok calon pengantin laki-laki justru harus menculik perempuan yang akan dijadikan istrinya terlebih dahulu. Menculik dalam hal ini berarti membawa pergi si perempuan tanpa izin keluarganya.

Biasanya perempuan akan dibawa ke rumah keluarga laki-laki. Keesokannya barulah keluarga laki-laki mengutarakan niat untuk menikahkan anak laki-lakinya dengan perempuan yang diculik.

Tradisi ini masih berlanjut secara turun-temurun sampai sekarang. Malah, melamar tapi tidak menculik akan dianggap sebuah penghinaan. Wah, lain suku lain pula adatnya!

Selesai berkeliling desa adat jangan lupa memberi tip untuk guide. Besaran tip seikhlasnya saja.

Walaupun obyek wisata ini sudah sangat mainstream tapi buat penyuka budaya, dan tentunya foto-foto, nggak ada salahnya berkunjung ke sini.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply