postingan mudik
Traveling

Mudik ke Sumatera

postingan mudikAkhirnya timbul mood untuk menulis blog. Sebelumnya, saya mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” bagi para pembaca blog ini.

Lebaran tahun ini saya mengikuti suami pulang kampung ke daerah asalnya, Jambi dan Sumatera Barat. Suami dan keluarganya memiliki tradisi mudik menggunakan kendaraan pribadi. Istilahnya road trip.

Rute tahun ini ditetapkan beberapa waktu lalu oleh suami dan keluarganya. Demikian juga dengan rangkaian kegiatan yang akan kami lakukan selama di kampung.

Pada hari yang sudah ditentukan dimulailah perjalanan panjang kami.

Saya dan suami memulainya dari rumah orang tua saya dan rumah kakak ipar di Bekasi. Ada dua mobil yang akan berkonvoi. Dari Bekasi rute perjalanan kami melalui tol lingkar luar (JORR) – tol Serpong – BSD – tol Merak.

Alhamdulillah, hari itu Pelabuhan Merak belum ramai. Menurut suami titik mampet dalam perjalanan mudik ke Sumatera biasanya justru ada di Merak. Tidak mengantri lama kami segera dapat naik ke kapal. Penyeberangan sendiri memakan waktu 2,5 jam.

Sesampainya di Bakauheni, Lampung, road trip Sumatera pun dimulai. Dari empat provinsi yang kami lewati selama mudik yakni Lampung, Sumatera Selatan (Sumsel), Jambi dan Sumatera Barat (Sumbar), Lampung adalah provinsi dengan infrastruktur jalan paling buruk. Sayang sekali mengingat vitalnya posisi provisi ini di Pulau Sumatera.

Sedangkan provinsi dengan pemandangan alam paling menarik menurut saya adalah Sumsel. Ada satu wilayah dimana kanan dan kiri pemandangan yang tersaji adalah perkebunan karet yang berbaris rapi. Tapi Sumsel juga yang, katanya, memiliki wilayah rawan bagi kendaraan yang melalui perjalanan darat.

Jalanan Sumatera jauh lebih lenggang dibandingkan dengan Pulau Jawa. Namun tantangannya lebih besar karena jalanannya yang mayoritas mulus sangat menggoda untuk pengemudi menggeber gas.

Pada waktu berangkat, kami melintas di jalan lintas tengah Sumatera. Saya tidak ingat pasti kota mana saja yang kami lalui, tetapi duduk berjam-jam di atas mobil terasa sangat melelahkan. Memang selain kendaraan yang prima, tubuh juga harus prima untuk melakukan perjalanan jauh.

Setelah melalui perjalanan kurang lebih 24 jam, yang diselingi istirahat setiap 3 jam sekali, kami sampai di kota Lubuk Linggau, Sumsel, untuk beristirahat di penginapan.

Keesokan paginya, kami melanjutkan perjalanan ke Jambi. Kali ini perjalanan tidak terlalu panjang. Dalam setengah hari, kami pun sampai di kampung halaman ayah mertua saya (almarhum) di Dusun Tuo, kabupaten Muara Tebo. Alhamdulillah.

Rumah keluarga suami adalah rumah panggung berhalaman luas yang ditumbuhi oleh pohon durian, pohon sawo dan rambutan. Waktu kami datang kebetulan sedang musim durian. Jadilah setiap hari anggota keluarga antusias menanti durian jatuh. Cerita tentang ini akan ada di postingan lain 🙂

Setelah beristirahat sehari, keesokan paginya kami kembali bersiap-siap untuk menuju Suliki, Payakumbuh, Sumbar. Itu adalah daerah asal ibu mertua saya. Perjalanan menuju Sumbar sendiri relatif lebih nyaman. Pemandangan yang tersaji berupa sawah-sawah dan perbukitan sangat menyegarkan mata.

Dalam setengah hari kami sudah sampai di Suliki. Kata suami, desa ini sudah banyak berubah. Tapi hawa di sekeliling masih cukup dingin. Dan yang jelas masakan Padang yang terkenal enak tidak luput kami cicip. Menginap sehari kami kembali ke Jambi lagi karena keluarga telah memutuskan berlebaran di Jambi.

Pulang dari Payakumbuh, kami tidak melalui jalur pertama melainkan via Bukittinggi. Di sini kami menyempatkan untuk membeli oleh-oleh khas Sumbar di Pasar Atas, yang bersebelahan dengan Jam Gadang. Di Bukittinggi kami baru merasakan jalanan padat alias macet yang tidak ditemui sebelumnya.

Dari Pasar Atas kami menuju ke Danau Maninjau. Wuih, jalan ke sana ekstrem banget. Nanti akan saya ceritakan di postingan yang lain :). Selain ke Maninjau kami juga sempat mampir di Danau Singkarak. Sayang, saat kami sampai waktu sudah malam sehingga danaunya tidak terlalu terlihat.

Setelah kurang lebih satu minggu di kampung halaman suami dan keluarganya, saatnya kembali ke Jakarta. Perjalanan balik relatif lebih lancar. Kali ini kami melintas via jalur timur yang melewati kota Jambi dan Palembang, dimana kami menginap semalam. Oh ya di Lampung kami sempat melintas wilayah perkebunan tebu yang menyegarkan sekali selepas Mesuji.

Dua malam di perjalanan akhirnya kami sampai di Bekasi, rumah keluarga. Capek dan lelahnya terbayar dengan perjalanan penuh cerita yang akan saya share di blog ini.

Baca terus yah!

 

Previous Post Next Post

You Might Also Like

2 Comments

  • eko May 3, 2014 at 8:03 am

    wah saya lebaran tahun lalu juga pulang ke kampung istri di Pasaman.
    emang nikmat jalan2 ke sumatra…tahun ini saya akan pulang lagi.

    salam

    • mels May 21, 2014 at 3:46 pm

      waw, asik dong. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini 🙂

    Leave a Reply