Penampakan highway (tol) dari dalam taksi
Traveling

Naik Taksi Seharga Gadget

Penampakan highway (tol) dari dalam taksi

Masih pengen cerita yang tersisa dari Amerika. Kata orang, kalau lagi jalan-jalan di luar negeri jangan pernah, sekali lagi, jangan pernah mengkonversi mata uang di negara tujuan dengan di Indonesia. Katanya sih, bakal sakit hati.

Saya mencoba mempraktikkan itu sewaktu sedang berdinas ke Amerika beberapa bulan yang lalu. Yang saya tahu, dollar US sekarang di atas 10 ribu rupiah, tapi supaya ngitungnya bulat saya anggap saja 10 ribu rupiah.

Dengan rumus tersebut, untuk urusan makan dan belanja oleh-oleh saya masih bisa mengerem pengeluaran. Tapi nggak begitu dengan urusan yang menguasai hajat hidup orang banyak *halah* macam transportasi.

Sebetulnya, saya cukup percaya diri menyebut saya orang yang berani kesana-sini sendirian di negeri orang. Tetapi lokasi tempat saya beraktivitas waktu itu, Anaheim, tidak memungkinkan buat saya yang perempuan, berjilbab dan sendirian untuk jalan jauh-jauh. Stasiun kereta jauh. Bis nggak ngerti rutenya. FYI, Anaheim itu terletak 43 Km di luar kota Los Angeles. Sebetulnya di dekat hotal saya ada Disneyland, tapi mengingat saya pergi sendirian, kayaknya nggak seru aja gitu –padahal sebetulnya karena tiketnya muahaal.

Jadi ketika saya ngebet, pengen banget, jalan-jalan ke Hollywood saya pun memilih untuk naik taksi. Ya, saya sudah membaca-baca internet bahwa biaya taksi dari Anaheim ke LA bakal bikin mata melotot. Bayangin saja, sejauh-jauhnya rumah orang tua saya di Jatiwarna ke bandara Soekarno Hatta nggak nyampe 200 ribu. Dari Anaheim ke LA minimal 85 US Dollar alias hampir 1 juta rupiah!

Berbekal dollar yang sebelumnya sudah diirit, saya pun memberanikan diri naik taksi dari hotel saya di Anaheim ke Hollywood.

Supir taksi saya adalah orang Bangladesh yang pas saya baru aja duduk langsung nanya, “Are you Moslem?”. Dari pertanyaan singkat itu, mengalirlah tanya jawab antara saya dan si bang Bangladesh itu sampai saya nggak nyadar itu argo sudah hampir nyentuh angka 100. Sampai di situ Hollywood belum kelihatan batang hidungnya. Glek!

Setelah melalui kemacetan selepas tol akhirnya Chinese Theatre tempat ngetem hop on hop off bus kelihatan juga. Si bang Bangladesh itu bilang yang kira-kira artinya “Bu, jalanan di depan Chinese Theatre ditutup jadi ibu turun di sini aja ya.” Hwooot, mesti jalan satu blok lagi?! Tapi karena si bang Bangladesh itu ngomongnya baik-baik, nggak nyasarin orang asing seperti saya, argo 90 US dollar sekian itu saya bulatkan menjadi 100 US. Si abang kegirangan kayaknya.

Setelah sampai di Hollywood dan belanja oleh-oleh kayak turis selama beberapa jam, tiba saatnya pulang lagi ke Anaheim. Nah, di sini pe-er lagi, nih. Mau naik MRT, kok sudah bolak-balik baca rute di depan stasiun nggak nemu tulisan Anaheim. Huaaaa!

Karena sudah menjelang malam, saya menyusuri jalan sambil berharap bertemu taksi. Dih, kok nggak sama kayak di film-film sih? Mau nanya polisi di mana pool taksi kok, ndilalah, nggak ketemu polisi. Mau nanya orang takut.

Waktu mulai linglung, Alhamdullilah nemu taksi lagi ngetem di pinggir jalan. Horeee, rasanya kayak nemu koin recehan waktu nggak punya uang.

Taksi yang saya naiki kali ini berjenis SUV. Jadi dalam satu mobil itu bisa muat 5 penumpang. Saya sempat nanya apa bedanya dengan taksi yang bentuknya sedan, trus si supir bilang “Sama aja, tarifnya juga sama.” Ya sudahlah.

Supir taksi yang asli Amerika ini nggak banyak ngomong seperti taksi sebelumnya. Cuma dia bilang “Jalanan bakal macet gila nih”. “Ah, segila-gilanya macet di LA apa bisa ngalahin gilanya macet Jakarta?” pikir saya. Ternyata, yang namanya macet gila di La itu sebetulnya lebih cocok disebut ramai lancar. Banyak mobil ngantri tapi tetap jalan. Sampai di Anaheim, saya kembali mengeluarkan uang 100 US dollar.

Ikhlas, walau kalau dihitung-hitung untuk bayar taksi saja saya sudah bisa membeli gadget middle end di Jakarta. Tapi saya percaya pengalaman nggak akan bisa ditukar dengan uang berapa pun juga. Ya kan?

Previous Post Next Post

You Might Also Like

2 Comments

  • Keke Naima September 16, 2014 at 3:02 pm

    berarti memang sarannya bener banget. Jangan coba2 dikonversi. Bikin pingsan hehe

  • Leave a Reply