Traveling

Nge-becak di Jalur Becak di Solo

Tiap kali ke Solo, saya tidak pernah jadi solo traveler. Kalau nggak berdua dengan teman, pasti berombongan. Jadi, hampir nggak pernah juga kemana-mana naik transportasi umum.

Beberapa waktu yang lalu saya dan beberapa orang anggota tim di kantor menghadiri pernikahan salah seorang tim saya. Di Solo kami menyewa mobil.

Tapi entah kenapa, di hari kedua sampai di Solo saya super malas pergi jalan-jalan. Maunya tidur saja di hotel dan leyeh-leyeh. Besoknya, tinggal beli oleh-oleh sebelum pulang lagi ke Jakarta, pikir saya. Karena itu saya pun ditinggal teman-teman.

Setelah mengistirahatkan mata sebentar, saya terbangun pada sekitar jam makan siang dengan perut keruyukan. Lapar tenan. Keluar hotel, saya celingak-celinguk nyari rumah makan yang buka. Ealah, setelah berjalan kurang lebih 500 meter ndak ketemu yang sesuai selera.

Akhirnya saya melihat becak lagi mangkal. Demi makan siang, saya pun minta tukang becak nganterin ke rumah makan terdekat. Si abang becak langsung memberikan saran yang langsung saya iya-kan. Hasek, naik becak jalan-jalan.

Uniknya, ketika sampai di jalan besar, becak yang saya tumpangi melipir ke pinggir jalan. Tanya-tanya dan lihat rambu di jalan, ternyata di Solo ada jalur khusus becak-nya. Jadi harus melipir.

Jalur becak yang saya lalui cukup steril mobil dan motor. Itu entah karena jalan rayanya ndak macet atau karena sudah ada kesadaran dari para pengguna kendaraan bermotor ya?

Anyway, enak lah kalau naik becak ada jalur sendirinya kayak gini. Di Jakarta, boro-boro becak ada jalur sendirinya, lha wong bus Transjakarta yang udah punya jalur sendiri aja sering diterobos motor dan mobil.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply