pasar seni sukawati
Traveling

Para Pedagang Gigih di Pasar Seni Sukawati

Sayang rasanya jika saya tidak membagi pengalaman menarik ini di blog saya ini. Ini potret para pedagang gigih di Pasar Seni Sukawati.

Setelah capek berkendara dari Ubud, di siang yang cukup terik itu saya dan suami memutuskan ngaso sambil makan siang di pelataran jalan di Sukawati.

Baru saja duduk dan memesan makanan, datang seorang turis asal India bersama teman Indonesianya memesan makanan yang hampir sama dengan pesanan kami.

Tak berapa lama, datang pula seorang pedagang menawarkan dekorasi meja berupa tempat buah dari kayu meranti yang cukup cantik. Si turis melihat-lihat sejenak namun memberi isyarat tidak tertarik.

 

Lalu terjadi percakapan yang kira-kira begini:

P : This is beautiful, i’ll give it to you for 150 thousands rupiah
T : What? No, 50 thousands
P : C’mon this is made of fine wood
T : No, 50 thousands

Sempat terjadi bujuk rayu yang diselingi oleh senyum dan tawa si turis. Dari Rp 150 ribu penawaran pun turun menjadi Rp 70 ribu.

P: Okay (lalu membungkus barang tersebut)
T: (menerima bungkusan lalu ngeluarin uang Rp 50 ribu dari dompetnya)

Si pedagang tentu protes. Kurang Rp 20 ribu lagi, intinya. Tapi si turis bergeming dan tetap menolak mengeluarkan uang tambahan. Akhirnya, sambil agak bersungut-sungut di awal, si pedagang pergi juga.

Yang tidak disadari baik oleh si turis maupun si pedagang pertama, ada pedagang kedua yang memperhatikan percakapan mereka.

Lucunya, setelah si pedagang pertama sudah tidak terlihat lagi, pedagang kedua langsung menyodorkan barang yang persis dengan barang si pedagang pertama kepada si turis India sambil berkata “i’ll give you this for 40 thousands rupiah!”

“Whaat?”. Si turis India pun pecah dalam tawa. Si pedagang perempuan itu berdalih bahwa dia sudah menawarkan barang kemana-mana dan setelah pedagang pertama itu sekarang gilirannya mendapatkan rejeki.

Dan Anda tahu yang dilakukan si turis? Dia ngeluarin uang Rp 50 ribu dari dompetnya sambil minta kembalian. Barangnya dibeli dong. Si pedagang kedua yang nggak banyak omong ini pun pergi setelah berterima kasih.

Setelah semua pedagang pergi si turis India cuma bisa tertawa ke teman dan kami yang ada di sebelahnya. “Saya tadinya nggak pengen beli eh sekarang malah punya dua,” begitu katanya.

Tadinya saya kebelet ngambil gambar si turis dan barang-barang yang dibelinya, tapi nggak enak karena sebelahan, so pakai foto
ilustrasi saja ya.

Untuk menjemput rejeki memang butuh banget yang namanya kegigihan. Tapi ini gigih atau maksa? You decide!

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply