Traveling

Pramugari di Atas Kapal

 

pramugari

Sudah lama sekali saya tidak naik kapal feri. Seingat saya kapal terakhir yang saya naiki adalah penyeberangan Sungai Kapuas waktu pulang kampung tahun 2010 lalu. Tetapi sangat sebentar, mungkin 10 menit saja.

Perjalanan laut berjam-jam yang saya masih ingat adalah saat menyeberang dari Pelabuhan Belawan (Medan) ke Pulau Penang (Malaysia) tahun 2006 yang lalu.

Ketika mudik saya kembali melakukan perjalanan laut, menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera.

Sewaktu berangkat air laut cukup tenang. Naik ke kapal, kami langsung menuju ke dek berkursi dan ber-AC yang di kapal disebut kelas bisnis.  Tarif per kepala Rp 7 ribu rupiah.

Tak lama setelah duduk di kursi dua orang perempuan berseragam masuk. Mereka mengambil toa dan langsung memberikan instruksi. “Oh, di sini ada pramugari juga,” pikir saya.

Instruksi yang saya dengar kurang lebih sama dengan instruksi yang biasa kita dengar di pesawat. Mengenai penggunaan alat keselamatan ketika keadaan darurat yakni pelampung. Penumpang juga tampak menyimak penjelasan sang “pramugari”.

Dari hasil googling, pramugari di atas kapal laut rupanya tidak tersedia di semua rute, hanya rute-rute tertentu saja seperti Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk. Selain di pesawat dan kapal laut, kereta juga sepertinya ada pramugarinya yah, tapi saya lupa, yang saya ingat malah ada pramugaranya hehehe.

Menjelang sore, saya keluar dari dek kelas bisnis dan menuju dek kelas ekonomi di ruang terbuka. Jika diperhatikan penumpang kapal ini cukup banyak namun pelampung yang ada sepertinya tidak mencakup semuanya. Syukurlah tidak ada apa-apa selama perjalanan.

Semilir angin di dek terbuka cukup sepoi dan membuat ngantuk. Namun teriknya memang minta ampun.

Setelah 2,5 jam perjalanan kapal kami merapat di Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Kami kembali melakukan perjalanan laut dari Pelabuhan Bakauheni 12 hari kemudian. Kali itu waktu sudah menunjukan pukul 02.00 malam. Air laut tidak begitu tenang dirasa saya. Karena itu saya terus-menerus merapal doa supaya tidak mabuk laut. Untung juga hari sudah beranjak malam, sehingga saya bisa tidur dan melupakan sedang di atas kapal yang bergoyang. Nah, kali ini saya tidak melihat pramugari seperti saat berangkat. Entah mengapa.

Walau jarang menempuh perjalanan di atas kapal, namun pengalaman naik kapal selalu tidak terlupakan.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply