Sports

Real Madrid: From Treble to Trouble?

Di kantor, nggak sedikit yang tahu kalau gue adalah penggemar berat Real Madrid. Dan nggak cuma sekedar dari cuap-cuap, kadang sering gue juga suka melampiaskan kesukaan gue lewat tulisan. Ini salah satu tulisan gue yang paling lumayan soal El Real. Sayang, ditulisnya pas kondisi Real lagi jelek huhuhu….

Real Madrid: From Treble to Trouble?

Meliyanti Setyorini – detiksport

Jakarta – Real Madrid mencanangkan Treble di awal musim. Tak heran, sebab mereka baru saja mendapatkan gelandang impian setiap klub, David Beckham, dari Manchester United. Kedatangan Beckham melengkapi dream team, yang sebelumnya sudah terdiri dari tiga pemain terbaik dunia: Zinedine Zidane, Luis Figo, dan Ronaldo. Madrid memang kemudian tampil cukup meyakinkan. Beckham, yang tadinya diragukan cepat dapat berbaur, ternyata sangat nyetel di lini tengah Madrid.

Masing-masing bintang pun seperti tak mau kalah, unjuk gigi, bersama Raul Gonzalez dkk. Ronaldo menjadi top skor sementara dengan 24 gol, sementara Zidane dan Figo bergantian menjadi bintang yang menyuguhkan tontonan berkelas kepada publik sepakbola dunia. Bersama-sama, mereka, yang dinamai Los Galacticos itu, mampu mengantar Madrid ke posisi puncak klasemen Liga Spanyol. Namun, langkah cemerlang Madrid terhenti bulan Maret lalu.

Pertama, mereka gagal di final Copa del Rey, atas klub papan bawah La Liga, Real Zaragoza. Beberapa pekan kemudian, mereka dihempaskan Monaco di perempat final Liga Champions. Seperti tak habis-habis, pekan ini Madrid harus menerima kekalahan di La Liga setelah ditelan Osasuna, 3-0. Yang lebih memalukan, klub papan tengah itu mengalahkan Madrid di Santiago Barnebeau. Padahal pada saat bersamaan, saingannya, Valencia, berhasil menundukkan Zaragoza. Setelah gelar treble melayang, kini lepas lagi tampuk klasemen La Liga yang mereka kuasai sejak Januari lalu.

Memimpin hingga pertengahan musim, sekarang mereka malah ketinggalan dua angka dari Valencia. Melihat nasib buruk Meringues itu, pantaskah direktur Madrid, Jorge Valdano, berujar mereka akan tetap menjadi tim terbaik dunia hingga sepuluh tahun mendatang? Jika Valdano tak menyadari kelemahan timnya saat ini, mungkin jawabnya adalah tidak pantas. Pasalnya, mereka tak punya kekuatan yang seimbang. Tajam di depan, namun bolong di belakang.

Dalam 32 partai La Liga, sudah 40 gol bersarang di gawang Iker Casillas musim ini. Rekor kemasukan Madrid bahkan lebih buruk dari Real Betis (peringkat 11), dan jika dibandingkan dengan Valencia, mereka kemasukan 19 gol lebih banyak! Padahal rekor memasukkan mereka, 65 gol, adalah yang terbanyak diantara 20 peserta.

Ivan Helguera, Roberto Carlos, Raul Bravo, Michel Salgado bergantian menjadi sisi lemah Madrid. Lini tengah yang tangguh tampaknya tak cukup untuk menutup kelemahan Madrid. Kehilangan Claude Makalele, gelandang bertahan Madrid yang pindah ke Chelsea, tampaknya sangat berpengaruh terhadap kualitas pertahanan mereka. Jose Maria Guti, yang ditugaskan menggantikan peran Makalele tak mampu berbuat banyak. Pasalnya, sewaktu ada Makalele, ia lebih banyak berperan sebagai striker untuk memback-up Raul atau Fernando Morientes kala itu. Beckham, yang bertipe menyerang, juga tak dapat terlalu diharapkan.

Apapun kondisinya, sebagai tim yang pernah dinobatkan sebagai yang terbaik di jagad ini, Madrid masih bisa bangkit jika menyadari kelemahannya. Pasalnya, mereka punya mental juara. Mudah-mudahan, ucapan Valdano usai kekalahan dari Osasuna mampu mengangkat moral pemain. “Serangkaian kekecewaan pasti akan berpengaruh pada moral para pemain, sekarang para pemain harus mengeluarkan klub dari situasi tak enak itu, dan saya yakin mereka akan melakukan itu.” Bisakah? (mel)

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply