Movie, Review, Saya

Review ‘American Sniper’: Kisah Legenda yang Gelisah

Dari dulu, saya termasuk penyuka film dengan latar belakang perang. Beruntung, setelah menikah suami saya juga tidak alergi menonton film perang.

Film perang terkini yang saya rekomendasikan untuk ditonton adalah American Sniper yang disutradarai Clint Eastwood. American Sniper diangkat dari memoar yang ditulis oleh seorang legenda sniper Amerika, Chris Kyle (Bradley Cooper).

Pria asal Texas itu mulai berkarir di NAVY SEAL di usia 30 tahun, setelah sebelumnya menjadi koboi di daerahnya. Peristiwa 11 September menggugah patriotismenya, hingga Kyle menerima penugasan pertamanya ke Irak. Keakuratan tembakan Kyle langsung terbukti di hari pertama operasi pertama yang diikutinya. Total, dia menembak 6 orang Irak –hal yang disebut rekan sesama sniper sebagai prestasi istimewa.

Kyle kembali ke Amerika setelah 6 bulan di Irak dan menikah sepulangnya dari sana. Namun semangat bela negaranya kembali membara hingga dia memutuskan kembali ke Irak saat sang istri (Sienna Miller) tengah hamil.

Ratusan orang Irak menjadi korban keakuratan tembakannya. Kehebatan Kyle pun terdengar seantero SEAL, hingga dia dijuluki sebagai “Sang Legenda” dan dielu-elukan sebagai pahlawan.

Kyle seakan terobsesi untuk terus kembali ke medan perang –bahkan saat dia di rumah bersama istri dan anak-anaknya. Apalagi setelah sang sahabat tewas ditembak sniper andalan Irak di penugasannya yang ketiga. Dibayangi kepedihan akan kehilangan sahabatnya, mampukah Kyle keluar dari bayang-bayang perang?

Saya tidak ngeh kalau film ini diangkat dari kisah nyata sampai menjelang credit title. Saya terlalu terbuai dengan plot ceritanya yang pas, tidak terlalu bertele-tele dan tidak terlalu panjang. Hingga dua jam tak terasa menonton film ini.

Latar belakang masa lalu Cooper, yang sejak kecil didoktrin ayahnya menjadi anak yang kuat dan pembela yang lemah membuat film ini tak melulu berisi soal kekejaman perang. Pun awal pertemuan dengan sang istri hingga seluk-beluk kehidupan rumah tangga seorang militer membuat film ini semakin berwarna. Nggak bosan pokoknya!

Cooper bermain dengan penjiwaan yang oke, hingga pantas dia masuk ke dalam nominasi Piala Oscar tahun ini –walaupun tidak menang. Upayanya untuk terdengar dan terlihat macho di film ini pun saya pikir tidak mudah. Mungkin sangking tertariknya dengan cerita film ini Cooper juga rela patungan memproduseri film ini –bersama dengan Eastwood dan beberapa orang lainnya.

Di film perang tidak melulu kekejaman yang tersaji, pasti ada sisi humanis yang terangkat atau pesan yang ingin disampaikan. Selamat menonton!

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply