Movie, Review

Review Film ‘Roma’

Jadi setelah jadi hype dimana-mana, akhirnya weekend kemarin saya ngelarin film ‘Roma’. Terus gimana review film ‘Roma’, nominator Piala Oscar 2019 ini? Cekidot ya!

Film besutan sutradara Alfonso Quaron ini bercerita tentang Cleo, seorang Asisten Rumah Tangga (ART) yang bekerja di sebuah rumah keluarga kelas atas di sebuah kota di Mexico. Mbak Cleo ini orangnya rajin dan nggak pernah mengeluh walaupun kerjanya dari pagi sampai malam, disayang sama anak-anak dan penurut sama majikannya, Ibu Sofia & Don Jose.

Pokoknya Mbak Cleo ini tipe “embak” favorit ibu-ibu, deh.

Tapi bukan cuma Ibu Sofia aja yang beruntung jadi majikannya Mbak Cleo. Mbak Cleo juga. Dia datang dari latar belakang suku asli Mexico. Walau cuma ART tapi majikannya baik. Mbak Cleo sering diajak liburan dan nggak pernah diperlakukan kasar. Bahkan waktu Cleo dihamili Fermin, pacarnya yang terus kabur karena nggak mau tanggung jawab, Ibu Sofia masih menerima Cleo dengan tangan terbuka. Mbak Cleo pun dibiayai buat periksa ke dokter dan difasilitasi waktu melahirkan di RS. 

Pergulatan nasib Mbak Cleo di rumah Ibu Sofia menjadi pusat cerita film sepanjang durasi 2 jam 15 menit ini.

Lama ya filmnya? Iya, banget. Bosenin nggak? Iya.

1 jam pertama saya sungguh-sungguh bosan karena plot film ini begitu lambat. Tidak banyak dialog terbangun antar tokoh. Kalau adapun ya nggak terlalu meaningful. Mana dikemas dalam format hitam-putih lagi. Jadi tambah sendu. Thanks to Netflix saya bisa pause bolak-balik film ini kala sudah dalam tahap pengen bobo sangking bosannya. 

Plot mulai agak mendingan di 1,5 jam terakhir. Setelah Mbak Cleo menyatakan dia hamil dan ditinggal Fermin. Apalagi bersamaan dengan itu keluarga Ibu Sofia juga mengalami masalah besar. Di sini scene-scene bagus mulai muncul. Favorit saya tentu saja pas Cleo melahirkan. Touchy dan bikin terharu. Film ini benar-benar mengagungkan konsep safe the best for last karena GONG-nya benar-benar muncul kira-kira ketika film ini 30 menit menuju usai. Tapi habis GONG, ya datar lagi. 

Apakah film ini worth to watch? Tentu saja, bagi Anda penggemar film drama. Bagi penggemar film dengan gambar bagus juga deng. Karena secara gambar ini film hitam-putih yang bagus sih, sesuai banget dengan latar yang ingin diambil yaitu Mexico di tahun 1970-an. Properti dan busana juga kusuka. Bagaimana dengan sang pemeran utama yang digadang-gadang, Yalitza Aparicio? Bagus tapi biasa. Karena menurut saya nggak terlalu banyak mengeluarkan ekspresi ya, datar bet Mbak Cleo. 

Buat Alfonso Quaron, walaupun dibilang kritik dan pakar kalau film ini masterpiece-nya dia, well, saya masih sukaan film ‘Gravity’. Itu sih sungguuuh kusuka. 

So, kalau film ini sampai menang Film Terbaik atau Aktris Terbaik Oscar saya sih nggak rela ya. Tapi untuk film yang memperkaya khazanah perbendaharaan film Anda boleh juga, worth to watch

 

 

Previous Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply