Movie, Review, Saya

Review ‘Negeri 5 Menara’: Man Jadda Wajada yang Sempurna

Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Mantera Man Jadda Wajada ini berhasil menyihir banyak penonton yang telah menyaksikan film Negeri 5 Menara.

Alif (Gazza Zubizareta) adalah remaja tanggung di Padang yang mengidam-damkan untuk kuliah di ITB dan mendunia seperti idolanya BJ Habibie.  Remaja berkacamata ini sangat kecewa ketika sang ibunda (Lulu Tobing) memintanya bersekolah di pesantren selepasnya dari SMP.

Padahal Pondok Madani bukan sembarang pesantren. Sekolah agama ini juga mengajarkan ilmu, kecakapan berbahasa asing, kemandirian dan, yang terutama, semangat pantang menyerah untuk mencapai cita-cita.

Bersama para sahabatnya, Sahibul Menara, Alif belajar menjalani hidup yang sudah ditentukan untuknya. Sempat ingin mundur, dia menemukan bahwa di sekolah agama sekalipun, apabila mau menjalaninya dengan bersungguh-sungguh, dia bisa mencapai cita-citanya.

Saya sudah membaca novel Negeri 5 Menara sebelumnya jadi, bisa ditebak, ekspektasi saya berlebihan. Dalam ekspektasi saya film ini akan mampu menggambarkan secara menyeluruh kehidupan asrama yang mampu mentransformasi seorang remaja ogah-ogahan menjadi punya tekad kuat.

Tapi untuk menggambarkan secara menyeluruh isi novelnya, tentu sangat tidak mungkin karena durasi. Jadi cukup bagi pembaca, termasuk saya, melihat sedikit soal Tyson, sedikit soal Sarah dan sedikit soal pengalaman Alif menjadi siswa yang berprestasi dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Namun terlepas dari yang sedikit itu, saya melihat banyak. Banyak bakat muda yang ditemukan oleh tim yang dipimpin Affandi Abdul Rahman di film ini. Diantaranya direfleksikan lewat pemeran Alif, Baso (Billy Sandy) dan Atang (Aris Putra), yang jadi favorit saya. Ketiganya berhasil membawakan perannya secara natural.

Para pemain muda ini melebur dengan para bintang kawakan seperti Ikang Fawzi (Kyai Rais), Donny Alamsyah (Ustadz Salman), ataupun David Chalik (Ayah Alif).

Saya tidak menangis ketika membaca novelnya, tapi baru 15 menit film ini berjalan saya sudah tersedu-sedu, yang puncaknya saat Alif memenuhi permintaan ibundanya untuk sekolah di Madani di acara makan malam keluarga.  Sutradara Affandi juga berhasil memvisualisasikan cerita di novel menjadi lebih menyentuh di scene lainnya. Yaitu ketika Baso, yang juara kelas, terpaksa meninggalkan Madani karena neneknya di Gowa sakit keras.

Banyak juga visualisasi gambar yang membuat film ini sangat menarik. Seperti di Danau Maninjau dan Pondok Madani alias Pesantren Gontor-nya. Menurut Affandi dan Ahmad Fuadi yang saya temui ketika live chat di detikForum, semua lokasi diambil di tempat sebenarnya, termasuk di Trafalgar Square di London. Tapi bersyukur karena dalam promosinya tidak disebutkan asli syuting di London dan distempel #ups 🙂

Katanya, tidak akan ada film yang diangkat dari novel yang “sempurna” menggambarkan novelnya. Tapi karena sudah bersungguh-sungguh dalam penggarapannya, film ini sudah sempurna. Untuk keluarga dan orang-orang yang menghargai persahabatan, saya merekomendasikan film ini untuk ditonton. Yuk!

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply