Movie, Review

Review ‘#republiktwitter’: Bukti ‘Si Burung Biru’ Lebih dari Sekedar Situs

Situs jejaring sosial ini bisa menjadikan dua orang asing menjadi dekat, membuat pasangan menjadi dua orang asing, menjadi sumber matapencaharian. Twitter juga membentuk opini publik hingga menjatuhkancitra seseorang.

Sukmo (Abimana Aryaseta), seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuahuniversitas di Yogyakarta, mengisi liburannya ke Jakarta sekaligusberencana menemui seseorang yang ditemuinya di Twitter.

Namun, rencana pertemuan dengan jurnalis cantik bernama Hanum (LauraBasuki) mendadak suram setelah Sukmo melihat sosok Hanum, yang lebihcantik dari imajinasinya, sedang ngobrol dengan seorang laki-lakidi cafe tempat mereka janjian.

Nggak disangka-sangka Sukmo, yang tidak pede dengan penampilannyasetelah melihat Hanum, ditawari pekerjaan yang nggak jauh-jauh darihobinya, yaitu nge-tweet.

Pekerjaan yang ditawarkan Bang Belo (Edy Oglek) membuat Sukmoberkenalan dengan Kemal Pambudi (Tio Pakusadewo), seorang konsultankomunikasi yang manipulator, yang juga “memaksa” Sukmo dan rekan-rekannya menjadi manipulator lewat trending topic Arif Cahyadi di Twitter.

Namun demi mendapatkan perhatian Hanum, Sukmo berani melakukansemuanya termasuk kemudian membongkar praktik manipulasi trendingtopic yang selama ini digelutinya. Hal yang membuatnya berkonfliktidak hanya dengan Kemal, Bang Belo, tapi juga dengan kekasihsahabatnya Andre (Ben Kasyafani).

Secara tema, film Republik Twitter sangat membumi, setidaknya sangatmudah dipahami oleh orang-orang yang melek Twitter. Bagaimana jargon Twitter sebagai situs yang “Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat”, divisualisasikan melalui hubunganSukmo-Hanum, dan sebaliknya, Andre-Nadya (Enzy Storia).

Demikian juga dengan jargon yang akhir-akhir ini kerap muncul, “SuaraTwitter Adalah Suara Rakyat”, dipresentasikan melalui keberhasilanpencitraan Arif Cahyadi yang namanya muncul sebagai kandidat DKI1berkat trending topic di Twitter.

Secara penokohan juga cukup pas. Saya tertarik dengan akting Abimanayang cuek dan jenaka serta Enzy sebagai tipikal remaja gaul zamansekarang yang menarik perhatian saya. Tio Pakusadewo sepertinyasudah tidak perlu diragukan lagi sebagai aktor watak jempolan.

Yang agak kurang pas adalah pemeran utama wanitanya. IMHO LauraBasuki terlalu cantik dan kurang gigih untuk peran sebagai seorangjurnalis investigasi. Demikian juga beberapa intrik yang terjadi didalam media yang dinaunginya, kurang mendalam, menurut saya.

Terlepas dari itu, salut untuk penulisan skenarionya. Sepertinya film ini dibuat lewat survei yang cukup mengenai tabiat parapengguna Twitter dan intrik di dalamnya.

Bagi para Twitterer (pemain Twitter), film ini sangat menarik untukditonton sebagai refleksi. Buat yang nggak main Twitter, film ini akan menunjukan bahwa ‘Si Burung Biru’ adalah lebih dari sekedar situs.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply