poster-thegreenhornet
Movie, Review

Review The Green Hornet: Cerita Kepahlawanan yang Membumi

Satu lagi cerita kepahlawanan yang berangkat dari kisah yang membumi. Untuk hiburan lumayan.

Britt Reid (Seth Rogen) adalah putra seorang konglomerat media yang menghabiskan kesehariannya untuk berfoya-foya bersama banyak perempuan. Namun segalanya berubah setelah ayahnya ditemukan tewas.

Britt yang memiliki hubungan buruk dengan sang ayah semasa hidupnya tiba-tiba diserahi tanggung jawab untuk memimpin perusahaan media besar, “The Daily Sentinel”.

Berawal dari sebuah peristiwa iseng di suatu malam, Reid dibantu oleh montir serba bisa, Kato (Jay Chou), tak sengaja menciptakan tokoh jagoan misterius yang mereka namai Green Hornet.

Green Hornet tak seperti tokoh jagoan pada umumnya. Dia memang kerap beraksi untuk tujuan baik, tapi di hampir setiap aksinya Green Hornet juga selalu menyisakan ‘kenakalan’ yang membuatnya tak hanya meresahkan penjahat di kota LA, Chudnofsky (Christoph Waltz), tapi juga meresahkan jaksa wilayah Scanlon (David Harbour).

Menggunakan media yang kini dipimpinnya, Reid berambisi untuk membuat Green Hornet buah bibir di LA. Apakah ambisi Reid berhasil? Atau dia akan mati konyol di tangan Chudnofsky?

Secara tema, Green Hornet ini menarik karena menceritakan tokoh jagoan yang berbeda dengan kebanyakan –walau tidak luar biasa. Hasil googling, karakter Green Hornet ini ternyata sudah wara-wiri di ranah komik, radio, televisi dan layar lebar sejak tahun 1930-an! Wow, lama juga yah perjalanan tokoh jagoan ini sebelum akhirnya diangkat lagi ke layar lebar dengan versi yang lebih baru.

Tapi kalau diingat-ingat setahun terakhir ini Hollywood tampaknya sedang doyan mengangkat tokoh jagoan yang lebih membumi. Maksudnya jagoan yang tidak punya kekuatan super, melainkan manusia biasa yang dianugerahi kepandaian atau kemampuannya dibantu oleh barang yang canggih. Sebelumnya ada Iron Man. Dan yang jauh lebih terkenal sebagai tokoh jagoan yang manusia biasa, Batman.

Green Hornet ini pun sedikit banyak mengikuti formulanya Batman. Keduanya sama-sama berlatar belakang konglomerat. Jika Batman punya Robin, Green Hornet didampingi Kato, yang sampai film berakhir belum memiliki nama samaran. Batman punya Batmobile? Si Green Hornet ini juga punya Black Beauty yang tak kalah canggih (dan vintage car yang macho).

Tetapi soal watak Batman dan Green Hornet berbeda. Jika Bruce Wayne digambarkan sebagai pria matang maka Reid adalah tipikal anak orang kaya yang sedang bertransformasi dari pemuda yang labil menjadi pria dewasa. Maka tidak heran apabila banyak kelakuan kocak dan dialog antara Reid dan Kato yang lumayan memancing tawa.

Secara cerita dan gambarnya lumayan. Sayang, sudah tokoh jagoannya tidak populer, kenapa pakai aktor yang juga kurang populer? Seth Rogen baru saya dengar kali ini kiprahnya. Jay Chou sebagai Kato jauh lebih lumayan. Sementara buat para cowok kali ini harus kecewa dengan penampilan Cameron Diaz sebagai sekretaris Lenore Case yang.. sepertinya biasa aja deh. Dan villain-nya juga biasaa!

Jika banyak review tidak merekomendasikan film ini, mungkin karena terlalu banyak kombinasi yang bikin film ini biasa. Bintangnya biasa, cerita tidak luar biasa, dan tidak terlalu banyak aksi bag-big-bug (baca: berantem) juga yang ditampilkan. Jadi walaupun film ini juga luncur format 3D-nya saya sarankan Anda nonton versi 2D saja.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

2 Comments

  • CLICKBET88.COM AGEN BOLA TERPERCAYA UNTUK PIALA EURO 2012 May 13, 2012 at 3:52 am

    Halo, thanks Mas Bro buat Tipsnya udah browsing kesana sini akhirnya ketemu juga… salam kenal dari Blogger Solo mampirlah ke Blog saya lumayan dapet temen baru….Mantabs

  • Bobbi February 5, 2011 at 3:35 pm

    greetings, wonderful blog page, and a very good understand! 1 for my bookmarks.

  • Leave a Reply