Si Jenong harus menunggu (lagi) sebelum bisa main seperti ini
Marriage, Saya

Satu Bulan Dipercaya Tuhan

Si Jenong harus menunggu (lagi) sebelum bisa main seperti ini

Setelah menata hati saya memberanikan diri menulis ini. This posting is very emotional for me. Bismillah.

Berawal di tanggal 1 Juli 2014 atau 3 Ramadan 1435 Hijriah, saya test pack setelah telat haid dua minggu. Saya sengaja tidak membeli test pack lebih awal karena takut kecewa. Suami juga melarang dan bilang belinya satu bulan lagi saja.

Tapi pada hari ke-3 Ramadan itu, badan mulai tidak enak, payudara sensitif dan belum juga mens. Saya pun secara iseng kembali membuka catatan saya tentang hamil muda. Karena feeling sudah menguat, secara diam-diam saya pun membeli test pack.

Di pagi buta keesokan harinya saya test pack. 1 menit, 2 menit, 3 menit. Saya baru menoleh untuk melihat hasilnya. Di luar dugaan, test pack itu menunjukan dua garis merah yang artinya positif! Mengejutkan. Saya hanya bisa menangis.

Segera saya pun membangunkan suami yang masih terlelap. Gelagapan, dia mulai membaca test pack dan setelah menyadari hasilnya dia memeluk saya. Setelah hampir tiga tahun menanti akhirnya kami diberi kepercayaan dari Tuhan. We were very happy.

Pukul 10 hari itu juga, saya membuat janji dengan dokter. Deg-degan. Setelah di-USG, dokter pun dengan happy mengabari bahwa saya positif hamil 5,5 minggu dengan kondisi hamil di dalam kandungan. Alhamdulillah.

Selang dua minggu, kunjungan kedua saya dalam keadaan hamil ke dokter. Pada kunjungan kedua, pesan dokter mulai membuat saya cemas. Kantong kehamilan saya sudah cukup besar tapi besar janin masih sangat kurang. Saya dipesan untuk makan dengan kandungan protein yang banyak.

Seminggu kemudian lagi-lagi ke dokter. Dan lagi-lagi kondisi janin saya belum sesuai. Namun saya bisa tersenyum karena katanya denyut jantungnya sudah terdeteksi. Artinya masih ada harapan janin ini berkembang. I was so happy to hear that. Sepulangnya, saya kembali diberi resep obat penguat kandungan yang ditambah dosisnya dari satu kali sehari menjadi dua kali sehari.

Namun masa bahagia itu tidak berlangsung lama. Satu hari menjelang Lebaran saya mengalami flek berwarna coklat. Bercaknya sedikit sekali dan menurut artikel-artikel yang saya baca di internet belum perlu dikhawatirkan. Saya berharap itu bukan pertanda buruk dan akan berhenti keesokan harinya. Tapi ternyata tidak demikian.

Lebaran yang seharusnya momen paling menyenangkan sepanjang tahun menjadi hari penuh kecemasan. Sebabnya flek saya tidak berhenti. Parahnya, semakin hari jumlahnya semakin banyak. Saya tidak bilang kepada siapapun dan hanya membatasi aktivitas. Lagipula, kejadiannya tidak setiap hari terjadi. Jadi, saya masih menganggap itu karena kecapekan.

Walau demikian setiap hari saya harap-harap cemas. Kecemasan itu mencapai puncak ketika saya sekeluarga menikmati periode libur lebaran. Saya dan keluarga suami sudah lama janjian untuk refreshing ke Puncak. Hari pertama di sana, flek saya mulai berubah menjadi kemerahan. Saya semakin sedih 🙁

Pada hari itu akhirnya saya berbicara pada suami saya. Dia minta saya tetap berpikir positif dan istirahat karena hanya 3 hari 2 malam kami di sana. Jika sepulangnya ke Jakarta flek tidak berhenti kami baru akan ke dokter. Kebetulan praktiknya juga sudah buka setelah libur lebaran.

Rabu, 7 Agustus, kami pun memutuskan pergi ke dokter setelah flek yang saya alami berubah menjadi pendarahan di hari itu. I have lost my faith at that time. Saya cuma berharap masih ada keajaiban.

Tapi keajaiban itu tidak terjadi. Dokter mengatakan bahwa janin kami tidak berkembang dan telah mengalami kematian mudigah. Denyut jantungnya pun sudah tidak ada. Usia kandungan saya memasuki minggu ke-10. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Dokter membesarkan hati dan menganjurkan janin ini segera diangkat agar bisa diobservasi sebab kejadiannya. Ada dua faktor yang bisa menyebabkan kematian mudigah yaitu faktor dari janin atau ada penolakan dari tubuh ibunya (saya). Saya masih berusaha tegar dan mencoba mendengarkan rencana pengangkatan janin keesokan harinya walaupun kata-kata dokter terdengar seperti gumaman di telinga saya. Tangis saya baru pecah di luar ruang praktik dokter di hadapan suster.

Ikhlas. Begitu yang terus-terusan saya tancapkan di pikiran saya. Saya menghabiskan air mata saya untuk menangis pada hari itu. Keesokan harinya saat menjalani kuret di RSB Asih dan langsung pulang hari itu juga.

Ramadan 1435 Hijriah itu diawali kebahagiaan tapi harus berakhir pilu. Namun saya percaya ada rencana yang lebih indah yang disiapkan Tuhan untuk saya dan suami.

Insya Allah…

Previous Post Next Post

You Might Also Like

4 Comments

  • Eparawira November 15, 2014 at 7:56 am

    I feel u, mba. dalam konteks ‘menunggu’ nya.. 🙁
    cheer up! Never give up 🙂

    • mels January 7, 2015 at 11:06 am

      Terima kasih, mba. Sama2, semangat yaaa….

  • Keke Naima September 18, 2014 at 3:59 pm

    insya Allah, Mbak. Semoga ada rencana yang indah dari Allah SWT, ya

    • mels October 18, 2014 at 6:23 am

      Aamiin.. terima kasih mba 🙂

    Leave a Reply