Traveling

Shanghai Metro

Kata orang, kalau ingin mengenal perilaku dan gaya hidup sebuah daerah/ negara asing maka pergilah ke pasar tradisionalnya. Tapi kalau saya kok lebih senang explore angkutan massal-nya ya!

Subway atau kereta bawah tanah kalau di Amerika. Di setiap negara mungkin dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Di Inggris disebut Underground. Rusia pakai Metro. Di Singapura dikenal dengan nama MRT (Mass Rapid Transit). Tapi intinya sih sama, kereta bawah tanah. Kalau sedang kerja atau sengaja melancong ke negeri seberang, minimal saya akan menyempatkan untuk menikmati angkutan massal/ kereta cepatnya –dengan catatan kalau ada.

Di Malaysia, negeri sebrang yang pertama banget saya sambangi, pengalaman pertama naik LRT (Light Rail Transit) sudah pernah saya tulis di sini.  Begitupun dengan Thailand. Di sana bukan subway sih, tapi sky train. Soalnya relnya di atas jembatan, bukan di bawah tanah. Naik subway Singapura juga pernah. Bahkan tiap kali ke Negeri Singa, saya pasti menyempatkan naik MRT-nya walaupun cuman sejalan. Iseng aja sih! 😀 Nah, pengalaman terbaru saya adalah naik subway di Shanghai.

Secara praktik, Metro Shanghai mirip dengan MRT Singapura. Sama-sama punya semacam kartu sekali jalan dan kartu bebas bepergian seharian. Demikian juga dengan jalur dan intersection-nya. Mirip. Mangkanya ketika saya sudah memegang rute Metro Shanghai di tangan saya pede jalan-jalan sendiri. Rencananya mau cari oleh-oleh dengan memanfaatkan waktu yang sempit.

Stasiun terdekat dari hotel saya menginap terletak di ujung Line 7. Berangkat dari contekan brosur dari hotel, tadinya pengen menyusuri Line 7 ini sampai jarak terjauh, tapi setelah diliat-liat lagi ternyata ada AP Plaza, tempat beli oleh-oleh yang terjangkau dari Stasiun Huamu. Cuma sekali ganti line (ke Line 2) pula.

Ternyata, subway di Shanghai nggak segitu nyereminnya. Cukup informatif dengan padanan kata berbahasa Inggris baik di counter tiket maupun tanda baca di sepanjang stasiunnya. Cuma, nggak usah ngobrol sama petugas karena tidak banyak yang pandai berbahasa Inggris :). Oh ya, baru tau dari Wikipedia kalau jalur kereta Shanghai termasuk yang terpanjang bersama London Underground.

Bodohnya, saya tidak lalu mengikuti insting, alias mengikuti sistem seperti berlaku di Singapura. Padahal nggak ada bedanya. Alhasil, saya harus bolak-balik ke counter tiket karena keliru membeli tiket untuk pemberhentian yang saya inginkan. Karena capek bolak-balik, akhirnya saya nekat saja keluar pemberhentian Museum Sains dan Teknologi Shanghai dengan cara melewati pintu otomatis dari bawah karena tak memegang kartu keluar di situ. Untungnya pak polisi setempat sedang meleng.

Alhamdulillah, pas pulangnya saya sudah lebih pinter dan membeli kartu sesuai pemberhentian, hingga nggak perlu kucing-kucingan dengan pak polisi 😀

Moral of the story, sepertinya untuk turis lebih enak beli tiket sepanjang hari deh. Supaya nggak bolak-balik dan enak berhenti di pemberhentian manapun yang diinginkan. Demikian 🙂

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply