Di Salah Satu Sudut Laweyan
Traveling

Solo Kota Batik

Di Salah Satu Sudut Laweyan

Solo kota batik. Saya sudah sering mendengar slogan tersebut tetapi baru-baru ini saja menyadari melekatnya kata batik dengan kota ini.

Slogan tersebut salah satunya terbukti dengan keberadaan dua kawasan pengrajin batik di kota Solo, yaitu kawasan Kampung batik Kauman dan Kampung Batik Laweyan.

Pada kunjungan pertama saya ke Solo bertahun-tahun lalu saya berkunjung ke Kauman. Kawasan batik ini cukup besar, dengan toko-toko batik berderet-deret dari ujung ke ujung.

Batik yang dijual di kawasan ini beragam, dari mulai harga standar Rp 30-35 ribu sampai ratusan ribu. Tergantung kualitas batik, tentu saja.

Nah, pada kunjungan saya kesekian ke Solo giliran Laweyan yang saya kunjungi. Kawasan ini relatif lebih besar dibandingkan Kauman. Tidak heran, toko-toko batiknya agak terpencar. Namun ternyata kawasan ini menyimpan sejarah tersendiri dalam perbatikan nusantara.

Di sinilah tempat berdirinya Syarekat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan pedagang batik pribumi, pada tahun 1912. Tidak heran bekas-bekas kejayaan para pedagang batik Solo bisa dilihat di sini. Dibandingkan dengan yang di Kauman, banyak rumah tua di sini berukuran cukup besar dengan gerbang-gerbang tinggi yang cukup artistik.

Nah, ketika sudah hampir sampai di ujung jalan, di Laweyan sampailah kami di butik batik Diyan Arto.

Butik ini berbeda dibandingkan toko-toko batik di kawasan ini. Tokonya didesain lebih modern, demikian juga dengan batik-batik yang dijual memiliki model yang tidak biasa.

Ada yang murni batik tulis, kombinasi batik tulis dengan kain linen, dengan kain lace dan bahan lainnya. Butik batik ini juga menjual aksesoris dan pernak-pernik mulai dari bando batik, topi batik, sepatu sampai tas batik.

Kami beruntung karena ketika itu sempat bertemu dengan Mbak Diyan, sang desainer, di butiknya. Perempuan yang saya perkirakan masih berusia 25 tahun itu banyak bercerita tentang batik dan pakem-pakemnya.ย Misalnya, kalau memakai kain batik maka kain yang terlipat harus selalu tampak nyambung (lupa istilahnya). Menjahit batik harus mengikuti arah motif. Dan mengenal perbedaan batik cap dengan batik tulis.

Dari pembicaraan, saya baru menyadari betapa tingginya nilai seni batik. Nggak heran, orang bule konon sangat terkesan dengan batik Indonesia.

Saya sendiri harus mengakui hanya kadang-kadang saja mau memakai batik. Bukan apa-apa sih, batik identik dengan resmi sementara gaya berpakaian saya sehari-hari adalah casual. Tapi saya cinta batik kok. Buktinya saya selalu membeli batik apabila berkunjung ke Jogja dan Solo #apasih.

Kalau kamu suka batik juga?

Previous Post Next Post

You Might Also Like

2 Comments

  • kekenaima October 24, 2012 at 9:57 am

    dulu sy bbrp kali ke Solo krn urusan kerjaan. Pengen bgt suatu saat bs ke Solo lagi.. Sambil borong2 batik kayaknya seru ya ๐Ÿ™‚

    • mels October 25, 2012 at 3:43 am

      widiiih borong2 batik, hasilnya bagi satu yah mba ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

    Leave a Reply