Movie, Review

The Boy In The Striped Pajamas

Aih, sudah lebih dua bulan nggak update blog ini. Sebetulnya ada beberapa film yang gue tonton dua bulan terakhir ini di bioskop, tapi beneran nggak mood untuk nulis review2-nya. Film yang gue tonton di DVD beberapa waktu lalu ini pengecualian.

Film ‘The Boy in The Striped Pajamas’ menurut kemasannya beredar tahun 2008, dan mendapatkan sambutan positif dari banyak pihak.

Bosan dengan kehidupan di rumah dinas di daerah terpencil tempat ayahnya ditugaskan, Bruno, anak seorang petinggi militer nazi tahun 1940-an, berusaha mencari kesenangan sendiri. Dia tertarik dengan ‘ladang’ di belakang rumahnya, yang digarap oleh ‘petani-petani’ berpiyama garis-garis.

‘Ladang’ di belakang rumah dinas keluarga Bruno memang misterius. ‘Petani-petani’ yang bekerja di sana memakai borgol di kakinya. Kadang2 dari sebuah bangunan, keluar bau sengit yang mengganggu penciuman.

Kemisteriusan ‘ladang’ yang sebetulnya adalah kamp konsentrasi di belakang rumahnya membuat Bruno penasaran. Tak sengaja ketika sedang menjelajah, dia bertemu dengan seorang anak lelaki bernama Shmuel.

Shmuel juga berpiyama garis-garis, ditambah wajah pucat dan perut kelaparan. Persahabatan dengan Shmuel membawa petualangan penuh risiko buat Bruno.

striped

Film ini diproduseri oleh perusahaan yang juga membuat film ‘Life is beautiful’. Nggak heran kalau beberapa detail mengingatkan gue dengan salah satu film favorit gue itu. Misalnya saja piyama garis-garisnya, detail barak kamp konsentrasinya, ritual ‘mandi bersama’ yang sungguh sadis kalau dibayangkan.

Film ini juga membawa keharuan yang hampir sama. Kepolosan dunia anak-anak terenggut oleh perang. Padahal perang cuma membawa kegetiran –baik untuk pihak yang kalah maupun menang. Di film ini kegetiran itu digambarkan dengan baik.

Pemeran Bruno tampil memikat. Begitu juga pemeran ayah yang dingin dan ibu yang nyaris tidak berdaya. As always, i love simplicity.

Image: dari Google

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply