Movie, Review

‘The Kite Runner’, Kisah Pilu dari Kota 1000 Mentari

kite-runner-movie-poster

Akhir tahun lalu, saya menyempatkan untuk menonton film-film berkualitas yang tidak sempat masuk ke bioskop di Jakarta. Salah satu yang berkesan berjudul ‘The Kite Runner’, yang merupakan film adaptasi dari novel karya Khaled Hosseini.

‘The Kite Runner’ bercerita tentang dua sahabat, Amir dan Hassan, di kota Kabul era tahun 1970-an. Amir adalah anak tunggal saudagar Agha Sahib. Sementara Hassan adalah anak pelayan yang bekerja di rumah keluarga Amir. Walau berbeda kelas sosial, keduanya kerap menghabiskan waktu untuk bermain layang-layang dan membaca buku cerita.

Persahabatan keduanya koyak pasca sebuah peristiwa memilukan yang menimpa Hassan. Amir, yang didera perasaan bersalah karena tak mampu membantu Hassan, akhirnya mencari cara untuk menyingkirkan Hassan dari rumahnya.

Namun kepergian Hassan meninggalkan celah kerinduan di hati Amir dan sang ayah, bahkan sampai ketika mereka sudah meninggalkan Afghanistan. Jauh setelah perpisahan, Amir kembali ke Kabul untuk menebus masa lalunya.

Seperti sudah saya sebutkan ‘The Kite Runner’ merupakan film yang diangkat dari novel berjudul sama. Novel tersebut masih menjadi salah satu favorit saya dan sudah pernah saya review di sini. Namun tidak seperti kebiasaan film yang diangkat dari novel, saya menganggap film yang edar tahun 2007 ini sama bagusnya dengan bukunya.

Hosseini yang asli Afghanistan menggambarkan kota Kabul sebelum pendudukan Uni Soviet sebagai kota di bawah mentariyang menyenangkan bagi anak-anak. Di waktu tertentu pemerintah bahkan menggelar lomba layang-layang, dimana ratusan layang-layang akan terlihat di langit kota Kabul. Satu layang-layang yang bisa bertahan paling lama di angkasa akan mendapatkan gelar pemenang yang disegani.

Sayang, konflik politik dan perang membuyarkan segalanya. Pada masa-masa itulah anak-anak menjadi sosok yang paling menderita. Misalnya terefleksi lewat kisah Sohrab, anak Hassan, yang mengalami pelecehan di usianya yang masih muda. How pity.

Penulis script David Beninoff menurut saya berhasil membuat cerita yang ditulis Hosseini apik saat diterjemahkan menjadi gambar oleh sutradara Marc Forster. Pemilihan aktor dan aktrisnya juga menurut saya pas, sudah cukup sesuai dengan ekspektasi.

Selain ‘The Kite Runner’, Khaled Hosseini juga telah menulis novel lainnya tentang kota Kabul berjudul ‘A Thousands Splendid Sun’. Bedanya, buku tersebut berkisah dari perspektif perempuan. Namun buku ini juga sama mengharukannya dengan ‘The Kite Runner’. Mudah-mudahan suatu saat juga akan diangkat sebagai film.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply