Saya

‘The Martian’, Saat Matt Damon Kembali Ke Asal

Saya udah pernah tulis belum sih kalau saya suka banget Matt Damon? Kalau belum saya ulangi lagi ya: I Love Matt Damon!

Sukanya tentu karena akting-aktingnya dong, bukan yang lain. Dia adalah salah satu alasan saya nonton film selain Tom Hanks, Leonardo di Caprio dan, tentunya, Keanu Reeves hehehehe. 

Matt Damon pertama kali saya lihat dalam film `The Departed`. Film ini luarrr biasa bagus bener, dan Matt langsung bikin jatuh hati saya berkat aktingnya sebagai polisi yang punya masa lalu kelam. Waktu itu dia main sama di Caprio. Masih bareng dengan idola saya yang lain, Tom Hanks, Damon main di salah satu film favorit saya, `Saving Private Ryan` sebagai prajurit yang kehilangan 3 saudaranya sekaligus di peperangan. 

Tapi yang paling nancep di hati tentunya waktu saya nonton film-film Damon di trilogi Bourne. Itu nggak perlu saya terangin panjang lebar yah karena sudah pasti banyak yang nonton dan bilang franchise film ini keren banget. Film Damon terakhir yang saya tonton adalah `Interstellar`, dimana dia –jarang-jarang– jadi tokoh antagonis.

Setelah peran yang “agak” mengagetkan di `Interstellar`, Damon akhirnya kembali ke khitah alias asal yakni menjadi “pahlawan” di film terbaru yang mengangkat topik luar angkasa berjudul `The Martian`.

Sesuai judulnya, film ini berkisah tentang seorang astronot, Mark Watney, yang secara tidak sengaja ditinggal oleh rekan-rekannya sesama astronot di Planet Mars. Mark Watney harus berusaha untuk survive di planet tak berpenghuni tersebut sambil meminta pertolongan ke bumi. Film ini diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Andy Weir.

Nggak mau terlalu panjang lebar, saya mau bilang kalau film ini cukup keren. Kredit khusus tentunya ditujukan buat tim set dan properti yang nemu aja yah gurun pasir yang mirip banget dengan planet Mars. Menurut Wikipedia namanya Wadi Rum, Yordania. Ternyata lagi, gurun ini sudah sering jadi lokasi shooting film berlatar Mars. 

Aksi dan akting Damon di film ini pun tidak bisa disepelekan. Bagaimana dia bisa “mengatur” penampilan, dari klimis berisi jadi kurus kering dengan wajah berewokan. Pasti pakai usaha nggak gampang.

Ceritanya yang nggak terlalu berat bikin mikir juga bikin film ini jauh lebih oke dibandingkan film sejenis seperti `Interstellar`. Tapi, film science fiction luar angkasa favorit saya tetap `Gravity`. Nggak ada yang bisa mengalahkan ide 2 pemeran utama dan efek CGI-nya. Juara dunia! 

Terlepas dari cukupnya, film `The Martian` oke untuk ditonton. Berkali-kali juga nggak nyesel. 

 

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply