Marriage

Tiga Bulan Pertama

Dari sekian banyak wejangan dari ayah sepanjang saya hidup, ada satu kalimat yang beberapa tahun terakhir ini sangat relevan dalam kehidupan saya. Kata ayah, “Setiap kali akan memulai sesuatu, tiga bulan pertama akan sangat terasa beratnya”.

Dua tahun lalu, saya memutuskan untuk membeli sebuah unit di rusunami. Kalau diingat-ingat itu merupakan proyek nekat karena pendapatan saya sebenernya masuk kategori cukup, belum berlebihan. Tapi saya bertekad memiliki sesuatu yang menandai achievement saya di tahun kelima saya bekerja ketika itu.

Dari tidak punya hutang, setelah membuat komitmen itu, kewajiban saya pun berlipat-lipat. Ya, membayar cicilan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) ke BANK, ya, membayar cicilan hutang DP (downpayment) ke kantor juga. Tapi kata ayah, kalau tiga bulan pertama sudah dilewati segalanya akan lebih gampang.

Hutang ke kantor sudah lunas sejak satu tahun yang lalu. Sementara pembayaran cicilan ke BANK, Alhamdulillah, sampai hari ini masih diberikan kelancaran. My dad was right.

Sebulan yang lalu saya dan pacar (ketika itu) memutuskan untuk membuat komitmen. Baru sebulan ada begitu banyak penyesuaian. Periode tiga bulan bahkan belum terlewati. Dan saya yakin pernikahan bukan penyesuaian tiga bulan saja tapi selamanya.

Beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan untuk membuat komitmen lain. Saya teringat tiga tahun lalu. Kondisinya nyaris sama. Tapi kali ini untuk komitmen yang berbeda dan sekarang saya didampingi suami yang, Insya Allah, akan membuat segalanya lebih mudah.

But, still, a long way to go. Semoga kami diberikan rezeki yang halal dan kelancaran atas segala urusan. Amin.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply