Movie, Review

Watchmen

Aduh, ini film apa, sih!? Begitu seruan teman gue di hampir sepanjang film yang kami tonton di bilangan Jaksel akhir pekan lalu itu. Dan gue pun nggak bisa nahan ketawa. Buat para penggemar Watchmen, baik komik maupun filmnya, gue minta maaf karena menurut gue film ini adalah film superhero teraneh, terumit dan paling enggak favorit.


Film yang berdurasi kurang lebih 3 jam ini (yes, prepare your snacks and drinks!) diawali dengan adegan pembunuhan seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah pensiunan (:p) superhero ber-nick name The Comedian, pada suatu malam di New York.


The Comedian ini adalah anggota Watchmen, kumpulan superhero yang beranggotakan kurang lebih 10 orang (gue lupa tepatnya). Namun tak seperti superhero kebanyakan, sebagian besar anggota Watchmen adalah manusia yang tidak dianugerahi kekuatan super seperti, misalnya, Superman atau Spiderman. Selain Dr Manhattan yang memiliki kekuatan super bisa mengubah apapun menjadi yang diinginkannya, lainnya mengandalkan kemampuan bela diri dan bantuan alat-alat canggih untuk menghajar rival-rivalnya.


Selanjutnya cerita bergulir pada tekad para pensiunan Watchmen yang lain untuk mengungkap misteri kematian superhero yang selalu memakai pin Mr. Smiley ini. Siapa dalangnya? Apa motivasinya? Dudududu…


watchmen-small


Sebetulnya dari sisi penokohan film ini cukup menarik. Gimana superhero digambarkan begitu manusia, yang punya sisi baik dan jahat, serta punya konflik di dalam diri masing-masing. Mulai dari Dr Manhattan yang paling super sampai Ozymandias, yang menurut gue paling menarik diantara semuanya. Untuk alasan2 yang tersebut film ini menarik karena berbeda.


Tapi ya cuma segitu aja. Banyak karakter dengan beragam latar belakang yang minta diperhatikan di film ini malah bikin pusing. Belum lagi bumbu-bumbu ceritanya lumayan berat, yaitu isu perang nuklir pada masa perang dingin AS – Uni Sovyet.


Lalu untuk sebuah film superhero, villain2-nya kurang memuaskan! Gue nungguin tuh pertarungan seimbang antara Watchmen (yang mana aja, deh) dengan musuh yang fantastis, grand, pokoknya yang bisa menimbulkan efek wow, tapi ternyata sampe film ini abis nggak nemu! Film ini juga terlampau banyak menampilkan adegan sadis dan rada vulgar.


Yah, mungkin gue masihlah penikmat film superhero konvensional. Yang lebih memfavoritkan sosok pahlawan yang (kalaupun nggak sempurna) mendekati sempurna. Yang punya slogan duty first, self next. Tapi bagi penonton yang doyan film2 yang nggak klise, then you might like what you saw.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply