Sports

Bye, Becks

Gara-gara punya klub favorit Real Madrid, banyak teman mengira gue doyan karena memfavoritkan David Beckham. Padahal, sori aja, gue udah doyan Madrid jauh sebelum Becks ke sana. Bahkan, boleh percaya boleh nggak, Becks itu sebetulnya salah satu pemain bola paling gue sebelin sepanjang masa.

Mangkanya tiga tahun lalu gue sempet terkaget-kaget waktu tahu dia pindah ke Madrid. Kok bisa, sih? Walau lumayan signifikan juga perannya buat Madrid selama tiga musim terakhir, tapi, tetep, gue menganggap dia adalah pembawa sial. Abis sejak dia datang nggak ada gelar yang mampir ke lemari tropi di Santiago Bernabeu.

Setelah tiga musim mencoba menerima kehadiran Becks, akhirnya gue lega. He finnally move. To America. Fuih, semestinya gue tahu kalau waktu main di Madrid pun motivasi dia adalah popularitas. Uang. Soalnya dari sejak main di Real, pendapatannya yang diterimanya makin gede aja — walau dalam daftar pemain bola terkaya di dunia dia cuma nomor dua setelah Ronaldinho.

Yang lebih melegakan lagi sebetulnya karena kepergiannya makin menegaskan habisnya Los Galacticos. Geez, gue nggak pernah suka sebutan itu karena mengingatkan sama kebijakan transfer pemain mega bintang yang malahan bikin Madrid rusak. Sekarang, tinggal Ronaldo aja nih yang perlu didepak.

Dan Madrid akan kembali seperti pertengahan 1990-an yang nggak punya mega bintang. Ruud Van Nistelrooy dan Fabio Cannavaro? Kita tunggu aja berapa lama mereka berdua tahan. Menurut gue, Canna bakal semusim aja di Real. Musim depan balik deh dia ke Italia. Sementara Ruudtje mungkin bisa dua atau tiga musim.

Anyway thanks Becks for the decision. No thanks for three-painful-season. But, good luck in America!

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply