Saya

Hari Baik Yang Tidak Baik

Tanggal 10 Oktober 2010 alias 10-10-10 disebut-sebut sebagai hari baik. Enggak heran cukup banyak pasangan yang memutuskan untuk mengikat pernikahan di tanggal tersebut. Namun nggak selamanya hari yang katanya baik berakhir baik buat sebagian orang.

Tanggal 10-10-2010, saya berencana melakukan perjalanan darat dari Yogyakarta ke Jakarta, setelah menghadiri Pesta Blogger Jogja di hari sebelumnya. Hari itu sebetulnya berawal baik saja. Saya menginap di hotel kecil yang nyaman dan sempat bertemu dengan teman-teman baik saya di kota gudeg. Namun petaka muncul ketika kami pulang.

Bersama rekan-rekan sekantor yang berjumlah 5 orang (plus supir), kami berenam beringsut dari Yogya menuju Jakarta sekitar pukul 16.30 WIB menggunakan satu mobil. Di jalan sempat ada pembicaraan singkat mengenai rute perjalanan pulang. Ada usulan pulang lewat Magelang. Namun karena memutar, maka kami memutuskan pulang lewat jalan yang sama dengan datang, yaitu lewat jalur selatan.

Hari itu entah kenapa jalan sangat ramai. Karena ramainya, di beberapa perempatan mobil terpaksa mengantri. Setelah kurang lebih dua jam perjalanan kami sempat berhenti di sebuah SPBU di Kutoarjo untuk shalat Maghrib dan Isya, sekaligus mampir membeli minuman ringan. Tak dinyana petaka terjadi selepas itu.

Pukul 19.30 WIB, beberapa kilometer memasuki kota Rembang, mobil kami kembali terjebak kemacetan. Yang saya ingat, saya sedang ngobrol dengan rekan di kursi penumpang depan ketika tiba-tiba terdengan bunyi “brakkk!!!” yang sangat keras dan melontarkan saya. Sedetik setelah kejadian yang membuat wajah saya membentur jok kursi supir (saya duduk di tengah), saya bengong. “Apa baru saja ada ledakan di belakang?”, pikir saya. Tapi setelah melihat kaca belakang mobil hancur berantakan saya baru sadar bahwa mobil kami baru saja ditabrak. Sejurus, saya bingung. Seorang rekan yang lain meminta kami semua untuk segera turun. Oalah, rupanya mobil kami ditabrak bus!

Di pinggir jalan lagi-lagi saya bingung. Keputusan saya untuk segera menelepon ibu, ternyata bukan langkah yang tepat. Namun harus bagaimana lagi mengingat dalam kepanikan saya pun tidak berhasil menghubungi nomor telpon polisi yang bisa saya temukan via Google karena tulalit! Where are the police when you needed them most?

Syukur, sekitar 10 menit kemudian seorang polisi menghampiri kami. Tapi lagi-lagi kami harus kecewa karena pak polisi juga tidak banyak berbuat. Setelah sampai dia memanggil mobil derek untuk mengamankan kendaraan-kendaraan yang terlibat insiden supaya tidak memacetkan jalan. Di saat menunggu, dia “menginterogasi” para supir untuk meminta keterangan. Saat itu saya menyadari selain luka di bibir, kepala saya juga berdarah. Ouch!

Setelah sekitar setengah jam menunggu, akhirnya mobil derek datang. Mobil kami diderek, bukan ke kantor polantas, melainkan pos polisi yang berjarak sekitar 1 km dari TKP ke arah Yogya. Di pos polisi tak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu pengurus dari bus yang menabrak kami datang dan menyelesaikan persoalan ganti rugi. Saya dan seorang rekan sempat mendatangi klinik di sebelah pos polisi untuk memeriksakan bibir yang semakin perih. Sempat pula membeli makan malam seadanya di warteg sekitar klinik.

Sampai kurang lebih 2 jam tanpa kepastian, akhirnya kami difasilitasi oleh pihak bus untuk menginap di sebuah losmen. Sesuai kesepakatan dengan rekan-rekan, saya dan seorang rekan akan kembali lebih dahulu ke Jakarta menggunakan pesawat pagi dari Yogya keesokan harinya. Adapun sisanya akan kembali hari Senin, seusai negosiasi lanjutan dengan pihak bus.

Senin dini hari, saya berkemas dan bersiap menyegat bus DAMRI Kebumen-Yogya yang melintas. Perjalanan bus dari Kebumen ke Yogya lancar dan tepat waktu. Saya dan rekan pun tanpa kesulitan mendapatkan tiket pulang dengan Batavia Air –walaupun dengan harga yang cukup tinggi. Hari itu lancar sampai saya sampai di rumah.

Kecelakaan yang saya alami cukup menyisakan syok. Saya masih mengingat benturannya, baju yang saya kenakan, jeans yang saya pakai. Dulu, setelah keluarga saya mengalami kecelakaan hebat di Puncak ibu melarung seluruh pakaian yang kami kenakan di hari naas itu. Katanya supaya kami lepas dari sial dan segera melupakan kejadian itu. At that time, it worked.

Apa memang hari baik tidak pernah berakhir baik buat saya? Ah, saya jadi teringat ‘hari baik’ tiga tahun lalu. Mudah-mudahan tidak. Kali ini spertinya saya memilih untuk mengingat hari itu sebagai pelajaran. Pelajaran berharga yang saya harap bisa menjaga saya dari peristiwa buruk yang terulang lagi.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply