Kata Mels, Lifestyle

Hidup di Tengah Pandemi

Sebelumnya nggak pernah menyangka akan mengalami masa pandemi dalam hidup. Tapi covid-19 bukan mimpi, dan beginilah kami menghadapi pademi.

Gegara pandemi meluas di Indonesia kantor saya memulai Work from Home (WFH) partial tanggal 16 Maret, jadi masuk kantor hanya hari Senin dan Kamis. Tapi baru seminggu partial, bos di kantor menetapkan kebijakan full WFH per 23 Maret. Sedangkan suami saya masih WFH partial sampai sekitar seminggu setelahnya.

Seminggu pertama full WFH, rasanya kayak lagi cuti —tapi ditambah buka laptop setiap hari. Masih semangat masak sendiri, dan tentunya beberes setiap hari. Saya juga berusaha patuh social distancing alias di rumah saja. Apalagi saya sempat demam di minggu itu sampai-sampai ke rumah sakit. Alhamdullilah setelah diberi obat sudah membaik. It’s weird. Jujur, waktu itu takut banget ke rumah sakit karena paham di sana justru rawan sumber penyakit! Huhu. Tapi RS yang saya datangi kemarin sudah menerapkan prosedur social distancing jadi lebih nyaman.

Namun apa-apa masih titip suami yang masih bolak-balik keluar rumah. Grocery shopping via online juga. Tapi habis itu kapok.

Minggu kedua full WFH, mulai setop grocery shopping karena sangat mengecewakan —berharap cepat sampai tapi lama sekali padahal belanjanya bahan mentah. Akhirnya keluar rumah untuk grocery shopping besar di Superindo. Apalagi suami juga sudah full wfh.

Tapi belanja besar-besaran untuk 2 minggu juga akhirnya setop —jadi belanja secukupnya— karena bahan mentah lebih baik kalau dibeli fresh —nggak disimpan di kulkas terlalu lama. Jadi sampai hari ini ikhtiar untuk grocery shopping tiap minggu untuk beli bahan mentah. Minggu kedua full WFH juga saya mulai banyak meeting virtual. Bersyukur internet First Media sampai hari ini belum ada gangguan yang berarti. That means kerjaan lancar. Love!

Minggu ketiga full WFH, mulai malas masak! Di masa itu saya baru memahami beratnya pekerjaan ibu rumah tangga yang tiap hari menghadapi ini —masak, beberes rumah, ngurus keperluan suami, belum lagi ngurus anak kalau ada. Salut dan hormat! Akhirnya partial aja masaknya, weekend tetap gofood/ grabfood-an. Itung-itung membantu perekonomian orang yang terdampak dari diberlakukannya WFH. Minggu ketiga sempat ke kantor untuk mengambil SPT 2019. Sebentar cuman 1,5 jam tapi lumayan happy karena bisa menikmati keriweuhan jalan raya lagi dan ketemu orang-orang di luar lingkungan rumah.

Minggu keempat full WFH, sudah bisa menerima kenyataan dan hidup lebih tenang. Yang jelas jadi nggak berhenti bersyukur.

Kami —saya dan suami— termasuk beruntung karena kami punya rumah untuk ditinggali selama WFH, masih digaji normal oleh kantor, dan masih punya tabungan untuk kondisi darurat. And there is not a day goes by without us thanking God for that. Ketika banyak orang susah di tengah pandemi ini. Tapi tentu saja sedihnya ada. Di antaranya karena kami nggak bisa reguler berkunjung ke rumah orang tua. Bahkan, waktu minggu ketiga saya mampir ke rumah mama sebentar buat ngambil makan siang tombo kangen, nyampe rumah langsung nangis —baca pesan mama.

Satu lagi yang disyukuri adalah terjadinya quality time yang sesungguhnya dengan suami. Kalau hari biasanya kami cuma ketemu pagi dan malam, sekarang sehari penuh! Anehnya, saya merasa kami berdua sama-sama less emotional daripada waktu ngantor setiap hari. Apa karena nggak stress di jalan? Entahlah.

Hari ini sudah 1 bulan lebih 6 hari di rumah saja. Dan besok Insya Allah mulai puasa. Rasanya sedih ya memulai puasa nggak di rumah mama. Biasanya buka puasa hari pertama di sana. I missed that so much.

Sampai hari ini pandemi belum ada tanda-tanda mereda. Jadi hari-hari di tengah pandemi masih lanjut, nih. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk melalui cobaan ini dengan baik.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply